[ ACCESSING_ARCHIVE ]

Prabowo: Duduk di Tengah, Urus Guru, Tata Pertahanan Bangsa

August 20, 2026 • BY azzar
[ READ_TIME: 13 MIN ] |
. . .

Halo, para netizen budiman, terutama kalian yang otaknya encer dan haus informasi teknis tingkat dewa! Salam dari saya, ‘Wong Edan’, blogger teknologi paling waras di antara yang edan, dan paling edan di antara yang waras! Hari ini kita tidak akan ngomongin chipset terbaru atau blockchain yang bikin kepala mumet, tapi kita akan bedah tuntas kebijakan dan langkah-langkah strategis Bapak Presiden kita, Prabowo Subianto, yang belakangan ini bikin jagat maya dan dunia nyata geger dengan manuver-manuvernya. Jangan salah sangka, ini bukan sembarang analisis kaleng-kaleng, ini analisis teknis level ‘Wong Edan’ yang berdasarkan fakta dan data valid! Siap-siap, karena artikel ini panjangnya kayak antrean bansos, detailnya kayak spesifikasi CPU generasi terbaru, dan faktanya sekuat baja pertahanan negara!

Kita akan mengupas tuntas tiga pilar utama yang menjadi sorotan publik: pertama, fenomena “Duduk di Tengah” yang bukan cuma soal tata letak kursi, tapi sarat makna politik dan simbolik. Kedua, komitmen “Urus Guru” yang membuktikan bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang bangsa, bukan cuma sekadar lip service. Dan ketiga, bagaimana beliau “Menata Pertahanan Bangsa” dengan strategi yang adaptif dan visioner, bahkan sampai ke urusan kapal perang yang mau dijual. Yuk, langsung saja kita selami samudra informasi ini, jangan sampai tenggelam di tengah jalan!

1. “Duduk di Tengah”: Simbol Kontinuitas, Stabilitas, dan Transisi Kepemimpinan yang Elok

Momen yang satu ini sukses bikin kita semua melongo, bahkan mungkin bikin server media sosial overload. Bayangkan, perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, dan di barisan depan, sosok Presiden terpilih, Prabowo Subianto, terlihat duduk tepat di tengah. Diapit oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di satu sisi dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin di sisi lain. Ini bukan sekadar kursi kosong yang kebetulan ada, ini adalah tontonan politik berkelas yang penuh simbolisme, dan tentu saja, menarik perhatian publik secara masif. Bahkan, saya yakin, bagi para body language expert, momen ini adalah bahan disertasi yang sangat gurih.

Secara teknis, dalam protokol kenegaraan, tata letak dan posisi duduk seringkali mencerminkan hierarki, hubungan, dan pesan yang ingin disampaikan. Posisi “duduk di tengah” dalam konteks ini bisa diinterpretasikan sebagai penanda transisi kepemimpinan yang mulus dan tanpa gejolak. Ini bukan cuma soal duduk manis, tapi ini adalah pernyataan visual tentang kontinuitas kekuasaan dan stabilitas politik. Bayangkan, sebuah negara sebesar Indonesia, dengan dinamika politiknya yang kadang bikin pusing tujuh keliling, mampu menunjukkan transisi kepemimpinan yang demikian harmonis di mata dunia. Ini mengirimkan sinyal kuat bahwa fondasi demokrasi kita kokoh, dan bahwa estafet kepemimpinan berjalan sesuai koridor konstitusi, bukan berdasarkan tarik-menarik kepentingan sempit. Momen ini bukan hanya sekadar seremoni, melainkan sebuah pertunjukan kematangan politik bangsa Indonesia yang patut diacungi jempol. Publik pun ramai memperbincangkan makna di balik posisi duduk tersebut, menunjukkan betapa sensitifnya masyarakat terhadap simbol-simbol kepemimpinan dan persatuan (Sumber: Facebook.com).

Dalam konteks global, citra ini sangat penting. Di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian ekonomi dunia, Indonesia menampilkan dirinya sebagai mercusuar stabilitas. Investor asing, mitra dagang, dan komunitas internasional akan melihat ini sebagai indikator positif bahwa Indonesia memiliki kepemimpinan yang kuat dan terencana. Transisi yang mulus mengurangi risiko ketidakpastian kebijakan, yang pada gilirannya dapat mendorong kepercayaan pasar dan investasi. Ini adalah bagian dari diplomasi visual, sebuah narasi yang disampaikan tanpa kata-kata, tetapi dengan kekuatan ribuan pidato. Bagi Prabowo sendiri, posisi ini menegaskan posisinya sebagai penerus estafet, bukan sebagai pihak yang berseberangan. Ini adalah penegasan visi kebangsaan yang lebih besar dari sekadar perbedaan politik, menuju Indonesia Maju yang berkelanjutan.

2. Urus Guru PPPK: Bukti Konkret Kepedulian terhadap Pilar Pendidikan

Nah, kalau yang satu ini pasti bikin para pahlawan tanpa tanda jasa, yaitu guru-guru kita, tersenyum lebar. Salah satu fokus utama pemerintahan mendatang di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto adalah penataan nasib guru, khususnya Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Ini bukan sekadar janji manis kampanye, tapi sudah mulai terlihat arah kebijakannya. Esthon Foenay, seorang politisi dari Fraksi Gerindra DPR RI, secara lugas menyatakan bahwa penataan guru PPPK adalah bukti nyata kepedulian Prabowo terhadap nasib para pengajar. Lebih jauh lagi, kebijakan ini juga bertujuan untuk memberikan ruang fiskal yang lebih besar bagi daerah (Sumber: Fraksi Gerindra DPR-RI).

Secara teknis, permasalahan guru PPPK ini memang bukan kaleng-kaleng. Selama ini, banyak guru honorer yang sudah mengabdi puluhan tahun dengan upah minim dan status yang tidak jelas. Kebijakan pengangkatan guru PPPK memang sudah ada, namun implementasinya di lapangan seringkali terkendala masalah anggaran dan birokrasi yang berbelit. Dengan adanya komitmen dari Prabowo untuk menata ulang ini, kita bisa berharap akan ada percepatan dan penyederhanaan proses. Ini artinya, lebih banyak guru akan mendapatkan status yang layak, gaji yang lebih stabil, dan tentu saja, jaminan masa depan yang lebih baik.

Pemberian “ruang fiskal daerah” juga merupakan langkah strategis yang patut diacungi jempol. Selama ini, banyak daerah mengeluh kesulitan membiayai gaji guru PPPK karena keterbatasan APBD. Dengan adanya intervensi dari pemerintah pusat, baik dalam bentuk alokasi anggaran khusus atau revisi skema pendanaan, daerah akan memiliki lebih banyak fleksibilitas untuk memenuhi kewajiban mereka terhadap guru. Ini bukan cuma soal duit, tapi soal distribusi kewenangan dan tanggung jawab antara pemerintah pusat dan daerah dalam mengelola sektor pendidikan. Ketika guru mendapatkan kepastian, mereka bisa fokus mengajar, menciptakan generasi penerus yang cerdas dan berkarakter. Ini adalah investasi paling fundamental untuk keberlanjutan bangsa, karena guru adalah garda terdepan pencetak Sumber Daya Manusia (SDM) unggul yang akan menggerakkan roda ekonomi dan inovasi di masa depan.

3. Investasi SDM: Lebih dari Sekadar Guru, tapi Juga Pembangunan Kapasitas Individu

Komitmen Prabowo terhadap pengembangan sumber daya manusia (SDM) tidak berhenti pada penataan guru PPPK saja. Ini juga terlihat dari bagaimana beliau menaruh perhatian pada individu-individu yang berprestasi dan memiliki potensi, bahkan di luar lingkup pendidikan formal. Ambil contoh kisah Rudi “Superman” yang viral. Rudi, seorang pemuda yang dikenal dengan kepeduliannya terhadap lingkungan, mendapatkan apresiasi langsung dari Prabowo. Bahkan, tidak tanggung-tanggung, Rudi ditawari beasiswa hingga peluang menjadi polisi kehutanan (polhut) (Sumber: Kompas.com).

Mengapa ini relevan dengan “urus guru”? Karena ini menunjukkan filosofi yang lebih luas tentang pentingnya pendidikan dan pengembangan kapasitas individu dalam membentuk SDM berkualitas. Beasiswa adalah bentuk investasi langsung pada potensi intelektual seseorang, memastikan bahwa bakat dan minat mereka bisa berkembang optimal tanpa terhalang biaya. Sementara tawaran menjadi polhut, meski spesifik, menunjukkan bagaimana pemerintah berupaya mengintegrasikan individu berdedikasi ke dalam sistem yang lebih besar untuk berkontribusi pada pembangunan nasional.

Secara makro, pendekatan ini sejalan dengan visi pembangunan SDM yang holistik. Indonesia membutuhkan bukan hanya guru-guru yang kompeten di sekolah, tapi juga inovator, pelestari lingkungan, pekerja terampil, dan pemimpin masa depan dari berbagai latar belakang. Dengan memberikan kesempatan dan apresiasi kepada individu-individu berdedikasi seperti Rudi, Prabowo mengirimkan pesan bahwa negara hadir untuk mendukung warganya yang ingin berkontribusi. Ini juga bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk terus berinovasi dan berbuat baik bagi bangsa, karena ada perhatian dari negara. Jadi, kalau ada yang bilang ini cuma pencitraan, saya bilang ini adalah ‘pencitraan’ positif yang memang perlu dilakukan untuk memotivasi dan membangun ekosistem SDM yang tangguh.

4. Revitalisasi Pertahanan Bangsa: Jual KRI Ki Hajar Dewantara demi Modernisasi Alutsista

Sekarang kita beralih ke ranah yang lebih “keras” dan penuh strategi: pertahanan negara. Tema ini adalah passion Prabowo, dan terbukti beliau tidak main-main dalam menata pertahanan bangsa. Salah satu langkah yang cukup menarik perhatian adalah rencana untuk menjual eks KRI Ki Hajar Dewantara. Ini bukan karena kapalnya jelek atau tidak berguna, melainkan bagian dari strategi modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI Angkatan Laut. Seperti halnya gadget atau komputer kita, alutsista juga punya masa pakai dan perlu di-upgrade secara berkala agar tetap relevan dan efektif di medan tempur modern.

Prabowo menegaskan bahwa penjualan kapal perang yang sudah tua adalah langkah wajar yang dilakukan banyak negara maju untuk memperbarui kekuatan militernya. Tujuannya jelas: mengganti aset yang sudah tidak efisien dengan yang lebih modern, canggih, dan sesuai dengan kebutuhan pertahanan di era sekarang. Ini adalah strategi manajemen aset yang cerdas, di mana aset yang sudah mencapai akhir masa pakainya dilepaskan untuk membiayai atau menjadi bagian dari investasi pada aset baru yang lebih unggul. Dana hasil penjualan tersebut, atau setidaknya sebagian darinya, dapat dialokasikan untuk pengadaan kapal-kapal baru yang memiliki teknologi lebih mutakhir, kemampuan tempur lebih tinggi, dan efisiensi operasional yang jauh lebih baik (Sumber: Kompas.com).

Dalam konteks pertahanan, modernisasi alutsista bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Ancaman keamanan di era modern sangat kompleks, mulai dari perang siber, terorisme, hingga persaingan geopolitik di Laut Cina Selatan. Kesiapan TNI Angkatan Laut dengan kapal-kapal yang mumpuni adalah kunci untuk menjaga kedaulatan maritim Indonesia yang sangat luas. Ini adalah bagian dari strategi “pertahanan total” yang tidak hanya mengandalkan jumlah, tetapi juga kualitas dan kapabilitas teknologi. Jadi, jangan berpikir Prabowo mau “mengurangi” kekuatan TNI, justru sebaliknya, beliau ingin “mengoptimalkan” dan “memperkuat” dengan cara yang lebih cerdas dan efisien.

5. Spesifikasi Teknis KRI Ki Hajar Dewantara: Sebuah Warisan yang Patut Dikenang

Mari kita sedikit lebih “teknis” lagi, sesuai gaya ‘Wong Edan’. KRI Ki Hajar Dewantara (364) bukanlah kapal sembarangan. Kapal ini adalah salah satu elemen penting dalam sejarah pertahanan maritim Indonesia. Dibangun di Yugoslavia (sekarang Serbia dan Montenegro) oleh galangan kapal Split pada tahun 1981, kapal ini berjenis Fregat Rudal kelas Korvet. Meskipun usianya sudah lebih dari empat dekade, KRI Ki Hajar Dewantara memiliki spesifikasi yang cukup impresif pada masanya dan telah banyak berkontribusi dalam pelatihan serta operasi TNI Angkatan Laut.

Secara dimensi, kapal ini memiliki panjang 96,70 meter, lebar 11,2 meter, dan sarat air 3,25 meter. Dengan bobot standar 1.570 ton dan bobot penuh 1.950 ton, kapal ini cukup tangguh untuk ukuran korvet. Daya jelajahnya ditenagai oleh dua mesin diesel SEMT Pielstick 12PA6BTC yang menghasilkan tenaga 16.000 bhp, memungkinkannya mencapai kecepatan maksimal 29 knot (sekitar 54 km/jam). Dengan kecepatan ekonomis 14 knot, kapal ini mampu berlayar sejauh 4.000 mil laut. Kapasitas bahan bakarnya mencapai 280 ton dan dapat menampung 60 ton air tawar, memberikan daya tahan operasional yang cukup lama di laut (Sumber: Kompas.com).

Sistem sensor dan persenjataannya pun cukup lengkap pada zamannya. Untuk sistem sensor, ia dilengkapi dengan radar pengawas udara (MR-302), radar navigasi (Decca), dan sonar pencari (PzR-10). Sementara untuk persenjataan, KRI Ki Hajar Dewantara membawa dua unit meriam Bofors 57 mm/70, dua unit Bofors 40 mm/70, dan dua unit Twin Rheinmetal 20 mm. Selain itu, ada juga dua peluncur roket RBU-1200 untuk senjata anti-kapal selam dan dua tabung peluncur torpedo 533 mm. Kapal ini juga memiliki helipad yang mampu menampung satu helikopter ringan seperti BO-105 atau AS-550 Fennec (Sumber: Kompas.com).

Dengan semua spesifikasi ini, terlihat bahwa KRI Ki Hajar Dewantara adalah kapal perang yang tangguh di eranya. Namun, dengan perkembangan teknologi militer yang sangat pesat, sistem radar, sonar, dan persenjataan yang ada mungkin sudah tidak sebanding dengan ancaman modern. Penjualannya, oleh karena itu, adalah langkah logis dalam siklus hidup aset pertahanan. Ini bukan berarti kita melupakan sejarah, melainkan justru menghormati kontribusinya dengan memastikan bahwa generasi kapal perang selanjutnya akan lebih siap dan mampu melindungi kepentingan nasional secara optimal. Ini adalah bagian dari strategi pertahanan yang berorientasi masa depan, bukan sekadar nostalgia masa lalu.

6. Visi Pertahanan Strategis Prabowo: Menuju Kekuatan Maritim yang Mandiri dan Modern

Langkah menjual KRI Ki Hajar Dewantara harus dilihat sebagai bagian kecil dari visi pertahanan strategis yang lebih besar yang diusung oleh Prabowo. Visi ini adalah tentang membangun kekuatan pertahanan yang mandiri, modern, dan mampu menjaga kedaulatan serta kepentingan nasional Indonesia di tengah kompleksitas geopolitik abad ke-21. Ini bukan hanya tentang membeli alutsista baru, tetapi juga tentang pengembangan industri pertahanan dalam negeri, peningkatan kualitas SDM TNI, serta adopsi teknologi pertahanan terkini.

Secara teknis, modernisasi pertahanan melibatkan beberapa aspek krusial:

  • Akuisisi Alutsista Modern: Penggantian kapal-kapal tua dengan fregat, korvet, kapal selam, dan pesawat tempur generasi terbaru yang dilengkapi dengan sistem sensor, komunikasi, dan senjata yang lebih canggih. Ini memastikan bahwa TNI memiliki keunggulan teknologi yang diperlukan untuk menghadapi berbagai ancaman.
  • Transfer Teknologi dan Lokal Konten: Upaya untuk tidak hanya membeli jadi, tetapi juga memastikan adanya transfer teknologi dari negara produsen. Ini penting untuk membangun kapasitas industri pertahanan nasional, mengurangi ketergantungan impor, dan menciptakan lapangan kerja. Proyek-proyek seperti pembangunan kapal perang di galangan dalam negeri atau perakitan pesawat tempur merupakan contoh nyata dari komitmen ini.
  • Peningkatan Kualitas SDM Pertahanan: Memberikan pelatihan dan pendidikan lanjutan bagi prajurit TNI agar mereka mahir mengoperasikan dan memelihara alutsista modern. Ini juga termasuk pengembangan kapasitas di bidang siber dan intelijen, yang menjadi semakin krusial dalam perang modern.
  • Pengembangan Doktrin dan Strategi: Merevisi doktrin pertahanan agar sesuai dengan perkembangan ancaman dan teknologi. Ini memastikan bahwa alutsista modern digunakan secara efektif dan efisien dalam konteks strategi pertahanan nasional.
  • Anggaran Pertahanan yang Berkelanjutan: Mengelola anggaran pertahanan secara transparan dan akuntabel, memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan memberikan dampak maksimal pada peningkatan kekuatan TNI. Penjualan aset lama dapat menjadi salah satu sumber pendanaan yang inovatif untuk program modernisasi.

Visi ini menunjukkan bahwa Prabowo tidak hanya berpikir jangka pendek, tetapi juga jangka panjang untuk membentuk TNI yang tangguh dan disegani. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki kepentingan maritim yang sangat besar. Menjaga keamanan jalur laut, kekayaan sumber daya alam di laut, dan kedaulatan wilayah perairan adalah prioritas utama. Oleh karena itu, investasi pada kekuatan maritim, termasuk modernisasi kapal-kapal perang, adalah keniscayaan. Ini adalah bagian dari strategi geo-maritim yang komprehensif untuk memastikan Indonesia tetap menjadi kekuatan regional yang stabil dan disegani.

7. Konvergensi Kebijakan: Keterkaitan Antara Politik, Pendidikan, dan Pertahanan

Mungkin ada yang bertanya, “Apa hubungannya duduk di tengah, urus guru, sama jual kapal perang, Wong Edan?” Nah, di sinilah letak keindahan dan kompleksitas dari tata kelola negara. Sebenarnya, ketiga pilar ini memiliki benang merah yang sangat kuat, yaitu visi Prabowo untuk membangun Indonesia yang kuat, mandiri, dan berdaulat. Ini adalah konvergensi kebijakan yang saling mendukung dan terintegrasi.

Pertama, momen “Duduk di Tengah” adalah simbol dari stabilitas politik dan persatuan bangsa. Tanpa stabilitas, program-program pembangunan, baik di sektor pendidikan maupun pertahanan, akan sulit berjalan efektif. Sebuah negara yang kuat dimulai dari fondasi politik yang kokoh, transisi kekuasaan yang damai, dan kepemimpinan yang legitimate. Ini menciptakan iklim yang kondusif bagi implementasi kebijakan-kebijakan strategis.

Kedua, “Urus Guru” dan investasi pada SDM adalah fondasi pembangunan jangka panjang. Pendidikan berkualitas menghasilkan generasi muda yang cerdas, inovatif, dan terampil. SDM unggul inilah yang nantinya akan menggerakkan roda perekonomian, menciptakan inovasi teknologi, dan bahkan menjadi tulang punggung dalam mengoperasikan alutsista canggih serta merancang strategi pertahanan yang efektif. Bayangkan, apa gunanya kapal perang tercanggih jika tidak ada prajurit yang mumpuni untuk mengoperasikannya atau insinyur yang mampu memeliharanya? Pendidikan yang kuat adalah investasi paling fundamental untuk keberlangsungan dan kemajuan bangsa.

Ketiga, “Tata Pertahanan Bangsa” adalah pilar untuk menjaga kedaulatan dan keamanan. Sebuah negara yang kuat ekonominya dan SDM-nya, tetapi lemah pertahanannya, akan rentan terhadap ancaman eksternal. Modernisasi alutsista dan pengembangan industri pertahanan dalam negeri adalah upaya untuk memastikan bahwa segala capaian di sektor lain dapat dilindungi. Pertahanan yang kuat memberikan rasa aman, menarik investasi, dan memberikan ruang bagi bangsa untuk fokus pada pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Ini adalah siklus positif: stabilitas politik memungkinkan pembangunan SDM, yang pada gilirannya memperkuat ekonomi dan pertahanan, menciptakan lingkaran kemajuan yang tak terputus.

Kesimpulan Ahli: Sebuah Narasi Kepemimpinan yang Pragmatis dan Berorientasi Masa Depan

Dari analisis teknis ala ‘Wong Edan’ ini, kita bisa menyimpulkan bahwa langkah-langkah Presiden Prabowo Subianto, mulai dari gestur politik “Duduk di Tengah”, komitmen kuat “Urus Guru” dan investasi pada SDM, hingga strategi “Menata Pertahanan Bangsa” melalui modernisasi alutsista, semuanya terjalin dalam sebuah narasi kepemimpinan yang pragmatis, strategis, dan berorientasi masa depan.

Ini bukan cuma soal janji-janji manis, tapi tentang implementasi kebijakan yang konkret dan terukur. Beliau menunjukkan kapasitas untuk melihat gambaran besar (makro) sambil tetap memperhatikan detail-detail teknis (mikro) yang krusial. Pendekatan ini adalah kunci untuk membangun Indonesia yang kuat, berdaulat, adil, dan makmur di tengah tantangan global yang semakin kompleks. Jadi, bagi kalian para ‘Wong Edan’ yang cerdas, mari kita amati terus, dukung, dan kawal setiap kebijakan yang diambil, karena pada akhirnya, kemajuan bangsa ini adalah tanggung jawab kita bersama.

Salam teknologi, salam Wong Edan!

[ END_OF_ENTRY ]
[ SUCCESS: COPIED_TO_CLIPBOARD ]
[ ARCHIVAL_COMMAND_INDEX ]
SHOW_COMMANDS?
SEARCH_ARCHIVECTRL+K / /
GOTO_INDEXSHIFT+H
NEXT_ENTRY_PAGE]
PREV_ENTRY_PAGE[
COPY_LINKSHIFT+S
CITE_SPECIMENC
MOVE_FOCUSW / S
ACTION_KEYENTER
PRINT_SPECIMENCTRL+P
PRECISION_DOWNJ
PRECISION_UPK
CLOSE_ALLESC
[ ARCHIVAL_CITATION_SPECIMEN ]
APA_FORMAT
azzar. (2026). Prabowo: Duduk di Tengah, Urus Guru, Tata Pertahanan Bangsa. Glass Gallery. Retrieved from https://wp.glassgallery.my.id/prabowo-duduk-di-tengah-urus-guru-tata-pertahanan-bangsa/
[ CLICK_TO_COPY ]
MLA_FORMAT
azzar. "Prabowo: Duduk di Tengah, Urus Guru, Tata Pertahanan Bangsa." Glass Gallery, 2026, August 20, https://wp.glassgallery.my.id/prabowo-duduk-di-tengah-urus-guru-tata-pertahanan-bangsa/.
[ CLICK_TO_COPY ]
CHICAGO_STYLE
azzar. "Prabowo: Duduk di Tengah, Urus Guru, Tata Pertahanan Bangsa." Glass Gallery. Last modified 2026, August 20. https://wp.glassgallery.my.id/prabowo-duduk-di-tengah-urus-guru-tata-pertahanan-bangsa/.
[ CLICK_TO_COPY ]
BIBTEX_ENTRY
@misc{glassgallery_188,
  author = "azzar",
  title = "Prabowo: Duduk di Tengah, Urus Guru, Tata Pertahanan Bangsa",
  howpublished = "\url{https://wp.glassgallery.my.id/prabowo-duduk-di-tengah-urus-guru-tata-pertahanan-bangsa/}",
  year = "2026",
  note = "Retrieved from Glass Gallery"
}
[ CLICK_TO_COPY ]
TECHNICAL_REF
[ REF: PRABOWO: DUDUK DI TENGAH, URUS GURU, TATA PERTAHANAN BANGSA | SRC: GLASS GALLERY | INDEX: 188 ]
[ CLICK_TO_COPY ]