[ ACCESSING_ARCHIVE ]

Karhutla Picu Kekeringan, Ancam Air Bersih Jabodetabek, Satwa Dipulihkan

September 13, 2026 • BY azzar
[ READ_TIME: 13 MIN ] |
. . .

Dari judulnya terdengar seperti tiga berita besar dipaksa masuk satu kereta: hulu kering, air bersih Jabodetabek terancam, lalu satwa perlu dipulihkan. Padahal kalau dibaca secara teknis, ketiganya adalah satu rantai masalah: kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) merusak fungsi hutan, lahan gambut, tanah, dan sungai; gangguan itu memengaruhi ketersediaan serta kualitas air; lalu ekosistem dan satwa ikut kehilangan tempat hidup.

Nah, jangan salahkan mata dulu karena sudah terlalu lama menatap layar. Ini bukan cuma soal api yang terlihat menyala-nyala. Dalam bahasa teknik, Karhutla adalah gangguan pada siklus air, kualitas air baku, konservasi tanah, kesehatan masyarakat, dan pemulihan biodiversitas. Singkatnya: air bersih itu infrastruktur tak terlihat. Saat berfungsi, kita tidak sadar. Saat kering atau tercemar, barulah semua orang tiba-tiba jadi ahli pipa.

Catatan fakta penting: hubungan antara karhutla dan kekeringan tidak selalu linier. Kekeringan dapat meningkatkan risiko kebakaran, sedangkan kebakaran dapat memperburuk fungsi hidrologis lahan. Karena itu, klaim bahwa Karhutla otomatis menyebabkan kekeringan Jabodetabek harus dibaca sebagai skenario risiko yang perlu dibuktikan dengan data curah hujan, aliran sungai, penyimpanan air, dan kualitas air. Namun, laporan Mongabay secara khusus membingkai kekeringan di hulu sebagai ancaman bagi air bersih Jabodetabek. Artinya, isu ini bukan sekadar drama asap di satu lokasi, melainkan persoalan keamanan air wilayah metropolitan.

1. Karhutla Bukan Sekadar Kobaran Api, Tapi Gangguan pada Siklus Air

Hutan dan lahan gambut berfungsi seperti sistem pengaturan air alami. Kanopi menahan hujan sementara waktu, serasah daun menyerap energi impact tetesan air, akar menciptakan ruang pores tanah, dan bahan organik gambut menyimpan air dalam jumlah besar. Ketika seluruh fungsi itu rusak terbakar, aliran air tidak lagi diatur dengan baik.

Dalam hidrologi, keseimbangan air sering disederhanakan dengan persamaan konseptual:

Presipitasi = Aliran Permukaan + Evapotranspirasi + Perubahan Cadangan Air

Karhutla dapat mengubah beberapa komponen dalam persamaan itu. Vegetasi yang hilang dapat mengurangi naungan dan evapotranspirasi lokal, tetapi juga mengurangi kemampuan tanah menahan air, meningkatkan aliran permukaan, mempercepat erosi, dan menurunkan cadangan air tanah. Pada lahan gambut, kerusakan vegetasi biasanya disertai draining atau pembukaan kanal. Gambut yang kering dapat teroksidasi, menyusut, dan menjadi jauh lebih mudah terbakar. Api pun tidak selalu berhenti saat kobakan di permukaan padam; titik api dapat.persist di dalam material organik dan menyala kembali.

Inilah kenapa penanganan tidak boleh dianggap selesai hanya ketika satu hektare terlihat basah. Di lahan gambut, strategi yang benar adalah mengembalikan kondisi hidrologis, bukan hanya memadamkan kobakaran sesaat.

Elemen Ekosistem Fungsi Normal Dampak Saat Terbakar atau Kering Ekstrem
Kanopi hutan Menahan hujan, mengurangi panas langsung, menurunkan erosi Intersepsi hujan menurun, suhu permukaan meningkat, tanah lebih mudah tererosi
Serasah dan humus Menyimpan air dan bahan organik Lapisan pelindung hilang, infiltrasi terganggu, risiko runoff meningkat
Akar Membentuk struktur tanah dan jalur infiltrasi Kerapatan tanah dapat memburuk, aliran air permukaan lebih cepat
Gambut Menyimpan air dan karbon Dapat mengering, teroksidasi, terbakar bawah permukaan, dan sulit dipulihkan

Dampaknya bisa berupa kualitas air baku yang turun karena meningkatnya sedimentasi, abu, dan bahan organik hasil pembakaran. Air yang tampak keruh bukan satu-satunya indikator masalah. Secara teknis, pengelola air juga perlu memantauparameter seperti kekeruhan, total padatan tersuspensi, pH, suhu, oksigen terlarut, serta kebutuhan oksigennya. Kalau parameter itu berubah tajam, proses pengolahan di instalasi harus menyesuaikan dosis, waktu operasi, dan kesiapan sumber pengganti.

2. Mengapa Kekeringan di Hulu Dapat Mengancam Air Bersih Jabodetabek

Jabodetabek adalah wilayah metropolitan dengan permintaan air sangat besar. Air yang sampai ke keran rumah tidak muncul secara ajaib. Ia melalui rantai panjang: sumber air baku, pengambilan air, pengangkutan, instalasi pengolahan, reservoir, jaringan distribusi, hingga rumah konsumen. Ketika hulu mengalami kekeringan, tekanan dapat muncul pada beberapa titik sekaligus: volume air baku berkurang, kualitas air memburuk, biaya pengolahan meningkat, dan risiko gangguan pasokan menjadi lebih besar.

Laporan Mongabay menyebut secara eksplisit bahwa kekeringan di hulu menjadi ancaman bagi air bersih Jabodetabek. Secara teknis, ancaman itu tidak harus berarti semua mata air langsung kering. Yang lebih sering terjadi adalah kombinasi risiko: debit sungai menurun, muka air waduk atau sumber air lain tertekan, kualitas air baku berubah, dan sistem harus bekerja lebih keras untuk tetap memenuhi kebutuhan.

Ada beberapa mekanisme penting yang perlu dipahami.

  1. Kekurangan volume air baku. Saat debit sungai atau cadangan air turun, instalasi pengolahan dapat kesulitan mengambil air dalam volume yang dibutuhkan. Jika tidak ada sumber pengganti yang memadai, sistem distribusi dapat mengalami tekanan.
  2. Peningkatan konsentrasi polutan. Air dengan volume lebih kecil tidak selalu otomatis tercemar berat, tetapi perubahan hidrologi dapat memengaruhi konsentrasi zat organik, sediment, dan hasil pembakaran. Pada kondisi tertentu, kualitas air menjadi lebih sulit diolah.
  3. Sedimentasi dan abu. Tanah yang terbuka setelah kebakaran dapat lebih mudah tererosi ketika hujan kembali datang. Abu dan partikel halus dapat meningkatkan kekeruhan. Instalasi pengolahan perlu menyesuaikan proses koagulasi, sedimentasi, filtrasi, dan desinfeksi.
  4. Tekanan operasional. Jika air baku semakin sulit didapat, penyedia layanan mungkin perlu meningkatkan penggunaan sumber alternatif, mengubah jadwal operasi, atau melakukan pengelolaan permintaan. Semua itu berisiko menaikkan biaya dan kerentanan pasokan.
  5. Ketimpangan spasial. Wilayah hilir seperti Jabodetabek dapat merasakan dampak hulu karena sistem sungai dan jaringan pasokan tidak berdiri sendiri. Masalah di hulu tidak selalu terlihat di permukiman, tetapi bisa muncul sebagai penurunan debit, perubahan kualitas, atau gangguan pasokan.

Karena itu, pemantauan tidak boleh hanya menunggu keran kering. Sistem peringatan dini yang lebih baik perlu melihat beberapa indikator bersama:

Indikator Mengapa Penting Bentuk Tindakan Dini
Curah hujan Menentukan pemulihan pasokan dan risiko runoff pasca-fire Peringatan dini kekeringan dan kesiapan hujan ekstrem
Debit sungai Menunjukkan ketersediaan air baku Penyesuaian pengambilan air dan alokasi
Volume waduk atau embung Menjadi cadangan operasional Pengendalian pemakaian dan operasi spillway
Muka air tanah Menunjukkan tekanan pada cadangan lokal Pembatasan penggunaan berlebihan dan recharge terukur
Kualitas air Mempengaruhi biaya dan keamanan pengolahan Peningkatan monitoring dan penyesuaian dosis pengolahan
Titik panas dan asap Menjadi sinyal risiko kebakaran serta kualitas udara Patrol, pemadaman, proteksi kesehatan, dan koordinasi lintas wilayah

Hal yang sering terlupakan: air bersih bukan berarti air yang terlihat jernih. Air bersih harus melalui standar keamanan sesuai fungsi dan kebutuhan. Jika kualitas air baku memburuk karena kekeringan, abu, atau sedimentasi, maka instalasi pengolahan harus bekerja lebih teliti. Kalau tidak, masalahnya bukan hanya “air habis”, tetapi juga “air ada tetapi tidak layak pakai”.

3. Penanganan Karhutla di Sejumlah Gunung Jawa Timur: Operasi Harus Berbasis DAS

Badan Nasional Penanggulangan Bencana melaporkan bahwa penanganan Karhutla masih berlanjut di sejumlah gunung di Jawa Timur. Kalimat “masih berlanjut” sudah cukup penting: ini bukan situasi yang selesai setelah satu kali penyiraman. Penanganan kebakaran lahan membutuhkan operasi berulang, pemantauan sisa bara, patroli, dan pemulihan pasca-kebakaran.

Di wilayah pegunungan, tantangan teknisnya berbeda dengan dataran rendah. Lereng mempercepat aliran air, meningkatkan erosi, dan membuat material terbakar lebih mudah terbawa ke sungai. Ketika hujan datang setelah kebakaran, risiko longsor dan sedimentasi dapat meningkat. Jadi, fokus bukan hanya “apinya padam”, tetapi juga “apakah tanah masih mampu menahan air dan melindungi sungai?”

Penanganan yang lebih kuat dapat dibagi menjadi beberapa fase.

  1. Pencegahan. Pemetaan area rentan, patroli masyarakat, pengendalian sumber ignition, edukasi pelarangan pembakaran, serta penyiapan titik air dan alat sederhana. Pencegahan biasanya lebih murah daripada memadamkan kebakaran yang sudah menyebar.
  2. Deteksi dini. Kombinasi laporan warga, patroli darat, observasi asap, dan data penginderaan jauh dapat membantu menentukan lokasi yang perlu dicek. Deteksi dini tidak berarti langsung menyimpulkan penyebab; investigasi lapangan tetap diperlukan.
  3. Kontrol garis api. Pembuatan garis bakar, pematian tepi api, pemadaman berbasis air, dan pengamanan area kritis dapat membantu membatasi perluasan. Metode harus disesuaikan dengan medan, angin, vegetasi, dan keselamatan petugas.
  4. Pengendalian sisa api. Area yang terlihat padam masih dapat menyimpan bara di bawah permukaan, terutama pada tanah organik atau akar yang terbakar. Pemadaman akhir harus memeriksa suhu, lubang, akar, dan material organik.
  5. Rehabilitasi pascakebakaran. Tutupan sementara seperti mulsa, check dam kecil, plantasi spesies lokal, dan stabilisasi tebing dapat mengurangi erosi. Rehabilitasi harus mengikuti kondisi lahan, bukan sekadar menanam pohon secara serentak tanpa pemeliharaan.

Di wilayah hulu, koordinasi lintas lembaga menjadi kunci. BNPB, pemerintah daerah, kepolisian, pemadam kebakaran, komunitas lokal, dan pihak yang mengelola kawasan harus berbagi informasi. Bukan hanya soal siapa yang datang memadamkan, tetapi juga siapa yang menjaga agar air yang masuk ke sungai tidak penuh sediment dan abu.

Mode “Wong Edan” di sini harusnya bukan mode teriak-teriak tanpa data, tetapi mode kerja cepat, cek ulang, catat, evaluasi, lalu ulang lagi sampai benar-benar aman. Karena di DAS, satu kesalahan kecil di lereng bisa menjadi masalah besar di hilir.

4. Gambut dan Tata Air Berkelanjutan: Pelajaran dari Banjarbaru dan Parit Seruat

Lahan gambut adalah sistem hidrologis yang sangat sensitif. Gambut yang basah dapat menyimpan air, tetapi gambut yang dikeringkan untuk pertanian, permukiman, atau kegiatan lain menjadi lebih mudah terbakar. Saat terbakar, gambut tidak hanya kehilangan fungsi penyimpanan air; ia juga dapat melepaskan karbon dalam jumlah besar dan menghasilkan asap yang menyebar luas.

Laporan Radar Banjarmasin mengutip dorongan agar penanganan Karhutla gambut di Banjarbaru mendorong pengelolaan tata air berkelanjutan. Frasa “berkelanjutan” itu penting. Memadamkan api hari ini tetapi membiarkan kanal-kanal kering dan pola drainage rusak berarti tomorrow akan ada masalah lagi. Ini seperti menambal bocor di dapur, lalu membiarkan pipa utama tetap terbuka.

Pengelolaan air gambut yang baik biasanya tidak sekadar “pukul air ke mana pun”. Ia memerlukan pemahaman tentang bentuk lahan, elevasi, kanal, musim, kebutuhan masyarakat sekitar, dan fungsi ekologis. Beberapa pendekatan teknis yang sering digunakan dalam rehabilitasi gambut antara lain:

  • Menutup atau memblokir kanal yang menyebabkan pengeringan pada area yang memang perlu direwetting.
  • Mempertahankan muka air tanah pada level aman agar gambut tidak mudah terbakar, tanpa menimbulkan masalah baru bagi permukiman atau lahan produktif.
  • Memulihkan vegetasi asli yang mampu menstabilkan permukaan lahan dan mengembalikan fungsi ekologis.
  • Menggunakan pemantauan berkala terhadap kedalaman air, suhu lahan, titik panas, dan kondisi vegetasi.
  • Libatkan masyarakat karena sebagian besar risiko dan solusi berada pada tingkat lanskap, bukan hanya di lokasi api.

Contoh konkret lain terlihat dalam laporan Pontianak Post tentang lahan terbakar 4 hektare di Parit Seruat, Kubu Raya, yang terus didinginkan agar tidak menyala kembali. Angka 4 hektare dalam laporan tersebut menunjukkan bahwa bahkan area yang relatif terbatas tetap perlu ditangani secara serius. Titik api kecil dapat membesar jika angin, bahan kering, dan akses menjadi tidak terkendali.

Poin teknisnya sederhana tetapi sering dilupakan: pemadaman adalah fase akhir, bukan strategi pemulihan. Setelah api padam, yang harus dilanjutkan adalah stabilisasi tanah, pengawasan titik panas, perbaikan tata air, dan pencegahan ignition di masa mendatang. Kalau tidak, siklusnya akan berulang: kering, terbakar, dipadamkan, lalu siap terbakar lagi.

5. Perlindungan Masyarakat dari Dampak Karhutla: Lebih dari Sekadar Masker

Gubernur Kalimantan Tengah mendorong penguatan perlindungan masyarakat dari dampak Karhutla, sebagaimana dilaporkan oleh Lentera Kalimantan. Ini penting karena dampak Karhutla tidak berhenti pada kerusakan hutan. Masyarakat mengalami dampak langsung pada pernapasan, akses air, mata pencaharian, sekolah, transportasi, dan kegiatan ekonomi.

Asap dari kebakaran hutan dan lahan mengandung partikel halus serta berbagai komponen iritan. Partikel halus dapat masuk jauh ke saluran pernapasan, sedangkan paparan berulang dapat membebani kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit paru atau jantung. Karena itu, perlindungan masyarakat harus dirancang sebagai sistem, bukan hanya membagikan masker lalu berharap semuanya selesai.

Langkah perlindungan yang lebih komprehensif meliputi:

  1. Kesadaran risiko. Informasi harus jelas, cepat, dan dapat ditindaklanjuti: area mana yang berisiko, kapan harus mengurangi aktivitas luar, serta di mana mendapatkan bantuan.
  2. Akses air bersih. Saat sumber air terganggu, distribusi air layak minum dan air untuk kebutuhan dasar harus menjadi prioritas. Air untuk minum, masak, higienitas, dan kebutuhan medis tidak boleh dianggap sama.
  3. Perlindungan kesehatan. Posyandu, puskesmas, rumah sakit lapangan, dan ruang udara bersih dapat membantu mengurangi risiko, terutama saat indeks kualitas udara memburuk.
  4. Masker dan ventilasi. Masker yang sesuai perlu disertai edukasi pemakaian. Ruangan dapat diberi filtrasi sederhana, tetapi jangan sampai menciptakan ilusi aman jika paparan asap tetap tinggi.
  5. Perlindungan mata pencaharian. Petani, nelayan, pedagang kecil, dan pekerja informal sering paling terpukul saat asap dan kekeringan berlangsung. Dukungan sosial perlu dirancang agar tidak hanya bersifat simbolis.
  6. Keterlibatan komunitas. Masyarakat lokal mengetahui kondisi lapangan: jalan mana yang bisa dilewati, sumber air alternatif, kelompok rentan, dan titik rawan kebakaran. Tanpa partisipasi mereka, operasi sering terlambat.

Di sisi lain, pembahasan dampak sosial tidak boleh berubah menjadi tuduhan massal tanpa verifikasi. Penyebab Karhutla harus dilihat berdasarkan kasus, jenis lahan, kepemilikan, aktivitas, kondisi cuaca, dan bukti lapangan. Pendekatan yang hanya menyalahkan satu pihak tanpa memperbaiki tata kelola air, pengawasan lahan, dan kesiapsiagaan masyarakat akan menghasilkan solusi yang dangkal.

6. Pemulihan Satwa dari Dampak Karhutla: Bukan Hanya “Dipakai Lepas”

Laporan Sinpo menyebutkan bahwa Wapres memastikan pemulihan satwa dari dampak Karhutla. Judulnya pendek, tetapi secara teknis,“dipulihkan” bukan berarti ditangkap lalu dilepas lagi besok pagi. Satwa yang terkena dampak kebakaran bisa mengalami luka bakar, dehidrasi, stres, gangguan pernapasan akibat asap, kehilangan sumber makanan, atau kehilangan habitat.

Proses pemulihan satwa liar yang baik biasanya melewati beberapa tahap.

  1. Rescue dan keamanan. Satwa dikeluarkan dari area berbahaya, ditangkap dengan metode yang sesuai jenisnya, dan dipindahkan ke fasilitas penangkaran atau pusat rehabilitasi yang mampu menangani kondisi tersebut.
  2. Triage medis. Petugas menilai luka, dehidrasi, berat badan, kemampuan bergerak, kondisi pernapasan, dan tanda stres. Satwa yang mengalami shock atau cedera berat memerlukan stabilisasi lebih dulu.
  3. Perawatan suportif. Hidrasi, nutrisi, pengobatan luka, penanganan infeksi, dan pengawasan suhu tubuh dapat menjadi bagian penting. Untuk satwa yang terpapar asap, fungsi pernapasan perlu dipantau.
  4. Quarantine dan pemeriksaan penyakit. Sebelum dicampur dengan satwa lain, individu yang rescued perlu diperiksa agar tidak menularkan penyakit. Ini berlaku juga untuk mencegah stres dan wabah pada fasilitas rehabilitasi.
  5. Rehabilitasi perilaku. Satwa harus mampu mencari makan, bergerak, menghindari bahaya, dan menunjukkan perilaku alami yang sesuai. Satwa yang terlalu tergantung pada manusia tidak otomatis siap dilepas.
  6. Penentuan lokasi release. Habitat harus aman, memiliki sumber makanan, bebas dari ancaman kebakaran aktif, dan sesuai dengan kebutuhan ekologis spesies tersebut.
  7. Pemantauan pasca-lepas. Jika memungkinkan, satwa dapat dipantau setelah dilepasliarkan untuk mengetahui tingkat kelangsungan hidup dan adaptasi.

Di sini terlihat hubungan erat antara pemulihan satwa dan pemulihan ekosistem. Melepas satwa ke kawasan yang masih gersang, penuh abu, dan kehilangan sumber makanan hanya memindahkan masalah. Satwa boleh sudah “sehat” secara medis, tetapi kalau habitatnya belum layak, release bukan solusi akhir.

Karena itu, program pemulihan satwa harus terhubung dengan rehabilitasi lahan: penanaman vegetasi asli, pengamanan sumber air, pengendalian kebakaran ulang, dan pemulihan rantai makanan. Satwa tidak hanya butuh tubuh yang sembuh; mereka butuh rumah yang layak.

7. Kesimpulan Ahli: Air Bersih Adalah Infrastruktur yang Harus Dikelola Sebelum Krisis

Karhutla, kekeringan hulu, ancaman air bersih Jabodetabek, dan pemulihan satwa sebenarnya adalah satu masalah besar tentang ketahanan ekosistem. Api yang padam bukan berarti sistem pulih. Sungai yang masih mengalir bukan berarti kualitas air aman. Satwa yang ditemukan bukan berarti habitatnya sudah layak. Di sinilah kerja teknis yang sering tidak glamour tetapi sangat menentukan.

Strategi yang paling masuk akal adalah pendekatan lintas sektor:

  • Di hulu: perlindungan DAS, revegetasi, stabilisasi tanah, rehabilitasi gambut, dan pencegahan ignition.
  • Di tengah lanskap: pengelolaan tata air berkelanjutan, blokade kanal yang tidak sesuai, pemantauan muka air tanah, dan patroli berbasis komunitas.
  • Di hilir: monitoring debit, kualitas air, kapasitas instalasi pengolahan, serta skenario darurat pasokan.
  • Untuk masyarakat: akses air bersih, perlindungan kesehatan, informasi risiko, dan dukungan ekonomi.
  • Untuk satwa: rescue, rehabilitasi, release yang berbasis kelayakan habitat, dan pemantauan pasca-lepas.

Jadi, jangan sampai kita baru peduli air bersih ketika keran sudah batuk-batuk. Jangan juga baru peduli satwa ketika mereka sudah kehabisan rumah. Dan jangan anggap Karhutla hanya urusan orang dengan sepatu bot di tengah asap, sementara orang di kota besar merasa aman-aman saja. Dalam satu sistem DAS, keputusan di hulu dapat terasa sampai ke hilir.

Intinya begini: memadamkan api itu penting, tetapi mengembalikan fungsi alam jauh lebih penting. Kalau air, tanah, hutan, masyarakat, dan satwa dipulihkan bersamaan, maka bukan hanya Jabodetabek yang lebih aman; seluruh rantai kehidupan di belakangnya juga mendapat perlindungan. Nggak perlu jadi dukun hujan, cukup kerja hidrologi dengan benar. Itu sudah cukup langka, apalagi kalau disertai masker dan data yang rapi.

[ END_OF_ENTRY ]
[ SUCCESS: COPIED_TO_CLIPBOARD ]
[ ARCHIVAL_COMMAND_INDEX ]
SHOW_COMMANDS?
SEARCH_ARCHIVECTRL+K / /
GOTO_INDEXSHIFT+H
NEXT_ENTRY_PAGE]
PREV_ENTRY_PAGE[
COPY_LINKSHIFT+S
CITE_SPECIMENC
MOVE_FOCUSW / S
ACTION_KEYENTER
PRINT_SPECIMENCTRL+P
PRECISION_DOWNJ
PRECISION_UPK
CLOSE_ALLESC
[ ARCHIVAL_CITATION_SPECIMEN ]
APA_FORMAT
azzar. (2026). Karhutla Picu Kekeringan, Ancam Air Bersih Jabodetabek, Satwa Dipulihkan. Glass Gallery. Retrieved from https://wp.glassgallery.my.id/karhutla-picu-kekeringan-ancam-air-bersih-jabodetabek-satwa-dipulihkan/
[ CLICK_TO_COPY ]
MLA_FORMAT
azzar. "Karhutla Picu Kekeringan, Ancam Air Bersih Jabodetabek, Satwa Dipulihkan." Glass Gallery, 2026, September 13, https://wp.glassgallery.my.id/karhutla-picu-kekeringan-ancam-air-bersih-jabodetabek-satwa-dipulihkan/.
[ CLICK_TO_COPY ]
CHICAGO_STYLE
azzar. "Karhutla Picu Kekeringan, Ancam Air Bersih Jabodetabek, Satwa Dipulihkan." Glass Gallery. Last modified 2026, September 13. https://wp.glassgallery.my.id/karhutla-picu-kekeringan-ancam-air-bersih-jabodetabek-satwa-dipulihkan/.
[ CLICK_TO_COPY ]
BIBTEX_ENTRY
@misc{glassgallery_491,
  author = "azzar",
  title = "Karhutla Picu Kekeringan, Ancam Air Bersih Jabodetabek, Satwa Dipulihkan",
  howpublished = "\url{https://wp.glassgallery.my.id/karhutla-picu-kekeringan-ancam-air-bersih-jabodetabek-satwa-dipulihkan/}",
  year = "2026",
  note = "Retrieved from Glass Gallery"
}
[ CLICK_TO_COPY ]
TECHNICAL_REF
[ REF: KARHUTLA PICU KEKERINGAN, ANCAM AIR BERSIH JABODETABEK, SATWA DIPULIHKAN | SRC: GLASS GALLERY | INDEX: 491 ]
[ CLICK_TO_COPY ]