[ ACCESSING_ARCHIVE ]

Wong Edan Bongkar: Ironi Air di Indonesia – Antara Banjir, Kekeringan, dan Api Neraka Iklim!

September 17, 2026 • BY azzar
[ READ_TIME: 14 MIN ] |
. . .

Selamat datang, sedulur-sedulur sebangsa dan setanah air, yang masih waras (atau pura-pura waras) di blog paling nggrantes tapi juga paling realistis ini! Saya, Wong Edan, kembali lagi membongkar fenomena alam yang bikin kepala geleng-geleng. Kali ini, kita akan ngomongin air. Ya, air! Sumber kehidupan, tapi di Indonesia, kok ya bisa jadi sumber bencana sak pol-pole. Ironi, bukan? Ibarat punya pacar cantik tapi hobinya ngajak ribut terus. Nah, Indonesia ini, Pakdhe, Budhe, lagi di fase galau parah sama air. Kadang kebanyakan sampai kelelep, kadang kering kerontang sampai bibir pecah-pecah, eh, terus ujung-ujungnya malah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang bikin napas ngos-ngosan. Ini bukan sulap, bukan sihir, tapi ulah si krisis iklim yang lagi ngamuk-ngamuk!

Sudah siap kupas tuntas secara teknis tapi tetap receh ala Wong Edan? Pasang sabuk pengaman, karena perjalanan kita kali ini bakal menembus labirin data, fakta, dan sedikit bumbu curhat. Jangan kaget kalau nanti ada fakta-fakta yang bikin Anda garuk-garuk kepala, mikir, “Lha kok iso?

Air Itu Hidup, Tapi Kenapa Jadi Bencana? Membedah Siklus Hidrologi yang Galau Akibat Krisis Iklim

Mari kita mulai dengan dasar-dasarnya, agar otak kita tidak terlalu error. Air itu punya siklusnya sendiri, lho, ibarat rutinitas influencer: evaporasi (menguap), kondensasi (jadi awan), presipitasi (turun hujan), lalu ngalir lagi ke sungai dan laut. Sederhana, kan? Ini namanya siklus hidrologi. Selama ribuan tahun, siklus ini berjalan relatif stabil, menciptakan ekosistem yang seimbang dan memberikan kita air bersih buat ngopi tiap pagi.

Tapi, tunggu dulu. Ada “agen pengacau” baru yang datang: Krisis Iklim. Ini bukan nama band punk rock, tapi ancaman nyata yang mengubah “rutinitas” air kita. Pemanasan global, akibat emisi gas rumah kaca yang kita hasilkan dari aktivitas manusia (membakar fosil, deforestasi, dan hal-hal hedon lainnya), bikin suhu Bumi naik. Kenaikan suhu ini mengganggu keseimbangan siklus hidrologi. Air lebih cepat menguap, awan jadi lebih banyak menampung uap air, dan hasilnya? Ketika hujan datang, dia datang dengan intensitas yang brutal! Atau sebaliknya, siklusnya jadi kacau, hujan entah ke mana, kemarau jadi panjang banget.

Maka tak heran kalau kita melihat fenomena “Ironi Air” ini. Di satu sisi, intensitas curah hujan ekstrem memicu banjir dan tanah longsor di berbagai daerah. Di sisi lain, periode tanpa hujan yang berkepanjangan menyebabkan kekeringan parah, mengancam pasokan air bersih dan sektor pertanian. Dan puncaknya, ketika lahan gambut atau hutan mengering akibat kekeringan, sedikit saja percikan api bisa menyulut Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) skala besar yang asapnya bikin kita semua batuk-batuk. Tiga serangkai bencana ini bukan lagi kebetulan musiman, tapi manifestasi nyata dari ketidakseimbangan sistem iklim global yang dampaknya terasa lokal, di halaman belakang rumah kita sendiri.

Banjir, Si Tamu Tak Diundang: Dari Genangan Kota Sampai Longsor Maut

Siapa sih yang suka banjir? Enggak ada! Tapi di Indonesia, banjir ini seperti tamu yang datang tanpa diundang, sering banget, dan bikin repot sekeluarga. Dari genangan di depan komplek sampai banjir bandang yang menyeret rumah, semua kita alami. Tapi kenapa kok bisa begitu?

  1. Intensitas Hujan Ekstrem (Ulah Krisis Iklim):

Dulu, hujan lebat itu jarang-jarang. Sekarang? Setiap hujan, rasanya kok ya lebatnya keterlaluan. Ini dampak langsung dari perubahan iklim. Atmosfer yang lebih hangat mampu menampung lebih banyak uap air. Ketika uap air ini jenuh, dia akan dilepaskan dalam bentuk hujan yang sangat deras, memicu banjir bandang dan genangan di wilayah dataran rendah. Pola hujan yang ekstrem ini, dengan curah hujan yang lebih tinggi dalam waktu singkat, membuat sistem drainase kota tidak mampu menampung volume air.

  1. Degradasi Daerah Aliran Sungai (DAS) & Alih Fungsi Lahan:

Bayangkan sungai itu sebagai “jalan raya” air. Kalau jalannya macet, pasti ada penumpukan, kan? Nah, DAS ini daerah sekitarnya. Deforestasi besar-besaran, terutama di hulu sungai, menghilangkan “penyerap air alami” berupa pohon dan vegetasi. Ketika hutan gundul, air hujan langsung lari ke bawah tanpa hambatan, membawa serta lumpur dan material tanah. Ini mempercepat erosi, mendangkalkan sungai, dan mengurangi kapasitasnya menampung air. Belum lagi alih fungsi lahan dari hutan menjadi perkebunan atau pemukiman yang mengikis daya serap tanah.

  1. Urbanisasi Tanpa Kontrol & Drainase Buruk:

Kota-kota kita tumbuh pesat, tapi sayangnya kadang tanpa perencanaan yang matang. Lahan kosong diubah jadi beton dan aspal, mengurangi area resapan air alami. Sistem drainase yang ada seringkali sudah tua, sempit, atau bahkan mampet karena sampah. Jadi, ketika hujan deras datang, air tidak punya tempat meresap atau mengalir dengan baik, akhirnya meluap ke jalanan dan rumah warga. Sampah juga jadi biang keladi utama yang menyumbat saluran air, bikin genangan makin parah.

  1. Penurunan Permukaan Tanah (Subsidence):

Di beberapa kota pesisir, terutama di Jakarta, ada fenomena penurunan permukaan tanah yang signifikan. Ini sebagian besar disebabkan oleh ekstraksi air tanah berlebihan. Ketika air tanah diambil terus-menerus tanpa isi ulang, pori-pori tanah kosong dan menyebabkan tanah di atasnya ambles. Ini membuat kota-kota jadi lebih rentan terhadap banjir rob (banjir akibat air pasang laut) dan memperparah genangan akibat hujan. Fenomena ini semakin kompleks dengan kenaikan muka air laut akibat pemanasan global.

Dampak Banjir: Lebih dari Sekadar Basah-basahan

Dampak banjir itu tidak main-main, sedulur. Kerugian ekonomi bisa mencapai triliunan rupiah, mulai dari kerusakan infrastruktur, gagal panen, hingga lumpuhnya aktivitas bisnis. Lebih parah lagi, korban jiwa seringkali berjatuhan, dan setelah banjir surut, muncul masalah kesehatan seperti diare dan penyakit kulit. Kita harus bersikap proaktif dalam menanggapi risiko banjir bandang, tanah longsor, dan penurunan permukaan tanah yang disebabkan oleh hujan lebat, seperti yang juga ditekankan dalam konteks penanganan bencana di berbagai negara (Vietnam.vn).

Kekeringan, Dahaga di Tengah Kelimpahan: Ketika Sumur Kering dan Sawah Merana

Setelah diguyur air berlimpah, sekarang giliran kita merasakan “puasa” air yang berkepanjangan. Kekeringan. Ini juga ironi tingkat dewa, di negara tropis yang katanya “gemah ripah loh jinawi” kok bisa-bisanya kekurangan air bersih.

  1. Perubahan Pola Curah Hujan (El Niño dan La Niña, Sang Pengendali Iklim):

Ini dia biang kerok globalnya: El Niño Southern Oscillation (ENSO). El Niño adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Dampaknya? Mengurangi curah hujan di Indonesia secara signifikan, memicu musim kemarau yang lebih panjang dan kering. Sebaliknya, La Niña justru meningkatkan curah hujan. Krisis iklim memperburuk fluktuasi ENSO ini, membuat El Niño menjadi lebih ekstrem atau La Niña menjadi lebih kuat, sehingga pola hujan di Indonesia menjadi tidak menentu dan sulit diprediksi.

  1. Eksploitasi Air Tanah Berlebihan:

Di banyak perkotaan dan daerah industri, air tanah disedot habis-habisan untuk kebutuhan rumah tangga, industri, dan irigasi. Padahal, proses pengisian kembali air tanah (recharge) membutuhkan waktu yang sangat lama. Akibatnya, muka air tanah turun drastis, sumur-sumur kering, dan sumber mata air alami ikut mengering. Ini juga berkontribusi pada penurunan permukaan tanah seperti yang dibahas sebelumnya.

  1. Degradasi Lingkungan: Hilangnya Resapan Air:

Sama seperti penyebab banjir, deforestasi dan alih fungsi lahan juga berkontribusi pada kekeringan. Hutan adalah “sponge” alami yang menyerap air hujan dan melepaskannya perlahan ke dalam tanah, mengisi cadangan air tanah dan menjaga debit sungai. Ketika hutan diganti beton atau sawit, kemampuan tanah untuk menyerap dan menyimpan air hilang, sehingga air hujan langsung mengalir tanpa sempat mengisi cadangan air.

  1. Inefisiensi Manajemen Air:

Air yang ada seringkali tidak dikelola dengan efisien. Kebocoran pipa distribusi, sistem irigasi yang boros, atau penggunaan air yang tidak bijaksana di rumah tangga, semua berkontribusi pada pemborosan sumber daya air yang terbatas.

Dampak Kekeringan: Mengancam Kehidupan Sehari-hari

Kekeringan menyebabkan krisis air bersih, yang dampaknya langsung terasa di masyarakat. Jangankan buat mandi, buat minum saja susah. Sektor pertanian hancur karena gagal panen, menyebabkan kelangkaan pangan dan kerugian ekonomi bagi petani. Di Jakarta, misalnya, suplai air PAM terganggu, dan muncul pertanyaan apakah ini dampak kekeringan (Kompas.com). Ini menunjukkan betapa rentannya kota besar terhadap ancaman kekeringan.

Karhutla, Api dalam Sekam Krisis Iklim: Bencana Asap dan Derita Ekosistem

Dan inilah puncak dari ironi air: setelah banjir dan kekeringan, yang datang adalah api! Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menjadi momok menakutkan, terutama saat musim kemarau panjang yang diperparah El Niño. Asapnya bikin sesak napas, sekolah diliburkan, dan penyakit ISPA mewabah.

  1. Korelasi dengan Kekeringan: Bom Waktu Lahan Gambut:

Kekeringan menciptakan kondisi ideal untuk Karhutla. Tanah menjadi kering kerontang, vegetasi mengering, dan menjadi bahan bakar yang mudah terbakar. Khususnya di Indonesia, lahan gambut menjadi ‘bom waktu’ raksasa. Gambut adalah tanah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang tidak terurai sempurna, dan memiliki kandungan karbon yang sangat tinggi. Ketika gambut kering, ia sangat mudah terbakar dan apinya bisa merambat jauh ke dalam tanah, sulit dipadamkan, dan menghasilkan asap yang sangat pekat.

  1. Penyebab Teknis: Alam Versus Manusia:

Meskipun ada faktor alam seperti sambaran petir atau panas ekstrem, sebagian besar Karhutla di Indonesia disebabkan oleh aktivitas manusia. Pembakaran lahan seringkali dilakukan untuk pembukaan lahan pertanian atau perkebunan secara cepat dan murah. Ini diperparah dengan kelalaian, seperti membuang puntung rokok sembarangan atau meninggalkan api unggun yang belum padam.

  1. Dampak Karhutla: Tragedi Bernama Kabut Asap:

Dampak Karhutla tidak hanya pada hilangnya hutan dan keanekaragaman hayati, tapi juga pada masalah kabut asap lintas batas yang mencemari udara hingga ke negara tetangga. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) melonjak drastis, menyebabkan masalah pernapasan serius, terutama pada anak-anak dan lansia. Selain itu, Karhutla di lahan gambut melepaskan emisi karbon dalam jumlah masif, mempercepat laju perubahan iklim global.

Pemerintah dan berbagai pihak terus berupaya mengatasi masalah Karhutla ini. Misalnya, Pemkab Buol melibatkan lintas sektor untuk mencegah Karhutla (ANTARA News Sulteng), menunjukkan pentingnya kolaborasi dari berbagai elemen masyarakat. Sementara itu, BNPB juga terus mengoptimalkan pemadaman Karhutla di berbagai daerah, menggunakan teknologi dan sumber daya yang ada (nasional.tvrinews.com). Upaya ini krusial, tapi pencegahan tetap kunci utama.

Akar Masalah: Krisis Iklim, Degradasi Lahan, dan Tata Kelola yang Teruji

Oke, kita sudah bahas gejalanya. Sekarang, mari kita bongkar akar masalahnya. Ibarat penyakit, kita tidak bisa hanya mengobati gejalanya saja, tapi harus tuntas sampai ke akarnya.

  1. Krisis Iklim sebagai Pengubah Permainan (Game Changer):

Seperti yang sudah saya singgung, krisis iklim adalah “mastermind” di balik semua kekacauan ini. Kenaikan suhu global 1.1 derajat Celcius di atas level pra-industri sudah cukup untuk memicu perubahan ekstrem pada pola cuaca. Gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4) yang dilepaskan dari pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, dan aktivitas industri, memerangkap panas di atmosfer, menyebabkan efek rumah kaca yang berlebihan. Ini mengubah frekuensi dan intensitas bencana hidrometeorologi. Fenomena El Niño atau La Niña yang dulunya punya siklus teratur, kini menjadi lebih ekstrem dan sulit diprediksi.

  1. Degradasi Lingkungan: Ketika Bumi Menderita:

Hutan adalah paru-paru dunia sekaligus “benteng” kita terhadap bencana alam. Ketika hutan dibabat habis, terutama hutan primer dan lahan gambut yang kaya karbon, kita kehilangan fungsi ekologis vitalnya. Hutan bukan hanya penghasil oksigen, tapi juga pengatur tata air, penyerap karbon, dan rumah bagi keanekaragaman hayati. Deforestasi di Indonesia, yang sebagian besar didorong oleh ekspansi perkebunan kelapa sawit dan pertambangan, secara langsung berkontribusi pada banjir, kekeringan, dan Karhutla. Kerusakan mangrove di pesisir juga memperparah dampak banjir rob dan erosi pantai. Pencemaran sungai dan danau juga mengurangi ketersediaan air bersih dan merusak ekosistem akuatik.

  1. Tata Kelola Sumber Daya Air & Lahan yang Menantang:

Indonesia memiliki regulasi yang cukup lengkap terkait pengelolaan lingkungan dan sumber daya air. Namun, tantangannya seringkali ada pada penegakan hukum dan implementasi di lapangan. Konflik kepentingan antara ekonomi dan lingkungan, lemahnya pengawasan, serta kurangnya partisipasi masyarakat dalam perencanaan dan pengelolaan, menjadi ganjalan. Infrastruktur pengelolaan air seperti bendungan, irigasi, dan sistem drainase juga masih belum merata dan optimal di seluruh wilayah, sehingga belum mampu menopang kebutuhan yang terus meningkat atau menghadapi anomali cuaca ekstrem.

Solusi Konkret, Bukan Sekadar Omong Kosong: Langkah Nyata Menuju Ketahanan Air dan Iklim

Wong Edan memang suka ngomel, tapi bukan berarti tanpa solusi. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan, mulai dari skala individu sampai kebijakan nasional. Ini bukan lagi soal pilihan, tapi kewajiban!

  1. Manajemen Air Terintegrasi dan Berkelanjutan:

  • Panen Air Hujan: Membangun sistem penampungan air hujan di rumah, gedung, atau fasilitas umum untuk mengurangi ketergantungan pada air tanah dan mengurangi beban drainase kota.
  • Biopori dan Sumur Resapan: Menggalakkan pembuatan lubang biopori atau sumur resapan di halaman rumah, taman, dan area publik untuk meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah, mengisi kembali cadangan air tanah, dan mengurangi genangan.
  • Embung dan Bendungan Mini: Membangun embung atau bendungan berskala kecil di daerah pertanian atau pedesaan untuk menampung air hujan dan menggunakannya saat musim kemarau.
  • Modernisasi Irigasi: Menggunakan teknologi irigasi tetes atau irigasi presisi untuk efisiensi penggunaan air di sektor pertanian.
  • Daur Ulang Air: Mengembangkan sistem daur ulang air limbah yang sudah diolah untuk keperluan non-potabel (misalnya menyiram tanaman atau toilet) di perkotaan.

  1. Restorasi Ekosistem dan Perlindungan Lingkungan:

  • Reboisasi dan Restorasi Hutan: Menanam kembali pohon di lahan gundul, terutama di daerah tangkapan air dan hulu sungai, serta melindungi hutan yang masih ada dari deforestasi.
  • Restorasi Lahan Gambut: Mengembalikan kondisi hidrologi lahan gambut yang rusak dengan penutupan kanal (rewetting) dan penanaman kembali vegetasi asli gambut untuk mencegah Karhutla dan mengurangi emisi karbon.
  • Rehabilitasi Mangrove: Menanam kembali hutan mangrove di pesisir pantai sebagai pelindung alami dari erosi dan badai, serta menjadi habitat bagi biota laut.
  • Pengelolaan Sampah Terpadu: Mengurangi sampah yang berakhir di sungai dan laut melalui 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik.

  1. Pencegahan & Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Data:

  • Sistem Peringatan Dini (EWS): Mengembangkan dan mengimplementasikan EWS yang akurat untuk banjir, tanah longsor, dan kekeringan, sehingga masyarakat punya waktu untuk evakuasi.
  • Edukasi dan Latihan Evakuasi: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang risiko bencana dan melatih mereka bagaimana bertindak saat bencana terjadi. Ini sesuai dengan prinsip proaktif dalam menanggapi risiko bencana, seperti yang diterapkan di Vietnam untuk banjir dan tanah longsor (Vietnam.vn).
  • Pemetaan Zona Risiko: Menggunakan teknologi GIS untuk memetakan daerah rawan bencana dan menyusun rencana tata ruang yang berkelanjutan.

  1. Kebijakan Pro-Lingkungan dan Penegakan Hukum:

  • Penegakan Hukum Karhutla: Memberikan sanksi tegas kepada pelaku pembakaran hutan dan lahan, baik individu maupun korporasi, serta memastikan tidak ada impunitas.
  • Moratorium Izin Konsesi: Menghentikan sementara pemberian izin baru untuk pembukaan lahan di hutan primer dan lahan gambut.
  • Pengembangan Energi Terbarukan: Beralih dari energi fosil ke energi bersih seperti surya, angin, atau hidro untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
  • Insentif Lingkungan: Memberikan insentif bagi masyarakat atau perusahaan yang berkontribusi pada perlindungan lingkungan dan konservasi sumber daya air.

  1. Pemanfaatan Teknologi dan Inovasi:

  • Pemantauan Satelit: Menggunakan citra satelit untuk memantau deforestasi, titik panas Karhutla, dan kondisi lahan secara real-time.
  • Artificial Intelligence (AI) & Machine Learning: Mengembangkan model AI untuk memprediksi pola cuaca ekstrem, mengelola risiko bencana, dan mengoptimalkan distribusi air.
  • Internet of Things (IoT): Menerapkan sensor IoT untuk memantau level air sungai, kelembaban tanah, atau kualitas udara, memberikan data yang presisi untuk pengambilan keputusan.

  1. Peran Komunitas dan Kolaborasi Multisektor:

  • Partisipasi Aktif Masyarakat: Mendorong masyarakat untuk terlibat langsung dalam upaya konservasi, pemantauan lingkungan, dan penanggulangan bencana.
  • Kolaborasi Lintas Sektor: Ini penting banget! Seperti yang dilakukan Pemkab Buol yang melibatkan lintas sektor dalam pencegahan Karhutla (ANTARA News Sulteng). Pemerintah, swasta, akademisi, LSM, dan masyarakat harus bekerja sama, bukan jalan sendiri-sendiri.
  • Edukasi Berkelanjutan: Mendidik generasi muda tentang pentingnya lingkungan dan keberlanjutan.

Wong Edan Menyimpulkan: Krisis Iklim Itu Nyata, Kita Harus Bertindak!

Oke, sedulur-sedulur, saya tahu ini artikel panjang dan mungkin bikin otak agak panas. Tapi, ini penting! Fenomena air yang seolah-olah bermain teka-teki, antara melimpah ruah dan menghilang tak berjejak, lantas berujung pada api neraka Karhutla, adalah gambaran nyata dari krisis iklim yang sedang kita hadapi.

Ironi air ini bukan sekadar statistik atau berita di televisi. Ini adalah kenyataan yang mengancam kehidupan kita, ketersediaan pangan, dan masa depan anak cucu kita. Kita tidak bisa lagi berdiam diri atau berharap masalah ini selesai dengan sendirinya. Ini bukan lagi tugas pemerintah saja, tapi ‘gugatan’ moral untuk kita semua.

Meskipun tantangan ini terasa berat, ibarat menghadapi bos terakhir di game dengan HP sekarat, kita punya “cheat code”: kolaborasi, inovasi, dan niat yang kuat. Kita punya sumber daya, kita punya pengetahuan, dan yang paling penting, kita punya akal sehat (semoga). Mengelola air dengan bijak, menjaga lingkungan, dan mengurangi jejak karbon adalah investasi jangka panjang untuk keberlangsungan hidup kita di Bumi ini.

Jadi, ayo, mulai dari diri sendiri, dari rumah kita, dari komunitas kita. Mari beraksi, sebelum air mata kita mengering karena kekeringan, atau kita terhanyut oleh banjir, atau sesak napas karena asap Karhutla. Ingat kata Wong Edan: “Alam ini bukan warisan nenek moyang, tapi pinjaman dari anak cucu kita. Jangan sampai kita wariskan masalah, wariskan solusi!

Salam Waras!

[ END_OF_ENTRY ]
[ SUCCESS: COPIED_TO_CLIPBOARD ]
[ ARCHIVAL_COMMAND_INDEX ]
SHOW_COMMANDS?
SEARCH_ARCHIVECTRL+K / /
GOTO_INDEXSHIFT+H
NEXT_ENTRY_PAGE]
PREV_ENTRY_PAGE[
COPY_LINKSHIFT+S
CITE_SPECIMENC
MOVE_FOCUSW / S
ACTION_KEYENTER
PRINT_SPECIMENCTRL+P
PRECISION_DOWNJ
PRECISION_UPK
CLOSE_ALLESC
[ ARCHIVAL_CITATION_SPECIMEN ]
APA_FORMAT
azzar. (2026). Wong Edan Bongkar: Ironi Air di Indonesia – Antara Banjir, Kekeringan, dan Api Neraka Iklim!. Glass Gallery. Retrieved from https://wp.glassgallery.my.id/wong-edan-bongkar-ironi-air-di-indonesia-antara-banjir-kekeringan-dan-api-neraka-iklim/
[ CLICK_TO_COPY ]
MLA_FORMAT
azzar. "Wong Edan Bongkar: Ironi Air di Indonesia – Antara Banjir, Kekeringan, dan Api Neraka Iklim!." Glass Gallery, 2026, September 17, https://wp.glassgallery.my.id/wong-edan-bongkar-ironi-air-di-indonesia-antara-banjir-kekeringan-dan-api-neraka-iklim/.
[ CLICK_TO_COPY ]
CHICAGO_STYLE
azzar. "Wong Edan Bongkar: Ironi Air di Indonesia – Antara Banjir, Kekeringan, dan Api Neraka Iklim!." Glass Gallery. Last modified 2026, September 17. https://wp.glassgallery.my.id/wong-edan-bongkar-ironi-air-di-indonesia-antara-banjir-kekeringan-dan-api-neraka-iklim/.
[ CLICK_TO_COPY ]
BIBTEX_ENTRY
@misc{glassgallery_554,
  author = "azzar",
  title = "Wong Edan Bongkar: Ironi Air di Indonesia – Antara Banjir, Kekeringan, dan Api Neraka Iklim!",
  howpublished = "\url{https://wp.glassgallery.my.id/wong-edan-bongkar-ironi-air-di-indonesia-antara-banjir-kekeringan-dan-api-neraka-iklim/}",
  year = "2026",
  note = "Retrieved from Glass Gallery"
}
[ CLICK_TO_COPY ]
TECHNICAL_REF
[ REF: WONG EDAN BONGKAR: IRONI AIR DI INDONESIA – ANTARA BANJIR, KEKERINGAN, DAN API NERAKA IKLIM! | SRC: GLASS GALLERY | INDEX: 554 ]
[ CLICK_TO_COPY ]