[ ACCESSING_ARCHIVE ]

Karhutla: Bara Dendam Gambut, Langit Lumpuh, dan Anggaran yang Tak Boleh Ikut Edan!

September 19, 2026 • BY azzar
[ READ_TIME: 14 MIN ] |
. . .

Selamat datang, para netizen budiman, kaum melek teknologi, dan para penjelajah dunia maya yang (mungkin) masih waras! Saya, Wong Edan, kembali lagi membawa kabar, bukan soal CPU tercanggih atau GPU terbaru, tapi soal Karhutla. Ya, betul! Kebakaran Hutan dan Lahan. Ini bukan soal bug di software, ini soal bug yang jauh lebih besar di sistem kita, di bumi pertiwi yang lagi demam.

Kadang saya mikir, ini Karhutla kok ya kayak program loop yang nggak ada exit condition-nya, muter terus tiap musim kemarau. Padahal, dampak dan biayanya itu lho, Mas Bro, Mbak Sis… ampun-ampunan! Ibaratnya, kalau ini website, udah error 500 berjamaah, plus server-nya meleleh! Dari derita warga yang sesak napas, langit yang mati suri bikin pesawat nggak bisa terbang, sampai anggaran miliaran yang bikin dahi mengernyit. Mari kita bedah tuntas, dengan gaya “Wong Edan” yang tetap menjunjung tinggi fakta, bukan hoaks ala ‘konspirasi segitiga bermuda di hutan tropis’.

Derita Warga: Ketika Udara Berubah Racun, Bukan Oksigen

Bayangkan ini: Anda lagi asyik scrolling TikTok atau nonton drakor, tiba-tiba mata perih, tenggorokan gatal, dan napas terasa berat. Bukan karena kebanyakan begadang, tapi karena udara di luar sana sudah bukan lagi ‘udara segar pegunungan’, melainkan ‘sup asap’ Karhutla. Ini bukan fiksi ilmiah, ini realita pahit yang dialami saudara-saudara kita di beberapa wilayah Indonesia.

Contohnya, warga di Kotawaringin Barat (Kobar) Kalimantan Tengah, mereka mengeluhkan mata merah dan sakit perut akibat dampak kabut asap Karhutla. Ini bukan cuma “karena masuk angin” ya, ini dampak langsung dari partikel-partikel berbahaya di udara. (detik.com)

Anatomi Asap Karhutla: Bukan Sekadar Debu Biasa

Asap Karhutla itu bukan sekadar asap dari “bakar-bakaran sampah” biasa. Ini koktail mematikan dari berbagai zat berbahaya. Ketika hutan dan lahan gambut terbakar, ia melepaskan partikulat halus (PM2.5), karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2), dan berbagai senyawa organik volatil (VOCs). Partikulat halus (PM2.5) adalah biang kerok utama yang bisa menembus jauh ke dalam paru-paru dan bahkan masuk ke aliran darah. Inilah yang menyebabkan masalah pernapasan akut, iritasi mata, dan masalah kardiovaskular.

Dampak jangka pendek yang umum terjadi meliputi:

  • Iritasi Mata: Partikel asap dan senyawa kimia di dalamnya menyebabkan mata merah, perih, gatal, hingga berair. Dalam kasus yang parah, ini bisa mengganggu penglihatan dan aktivitas sehari-hari. Keluhan mata merah yang dialami warga Kobar adalah indikasi jelas dari iritasi ini.
  • Gangguan Saluran Pernapasan: Asap memicu batuk, pilek, sesak napas, dan memperburuk kondisi penderita asma, bronkitis, atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Partikel PM2.5 sangat berbahaya karena ukurannya yang sangat kecil, memungkinkan mereka masuk jauh ke dalam alveoli paru-paru.
  • Sakit Tenggorokan: Udara yang terkontaminasi menyebabkan iritasi pada tenggorokan, memicu rasa gatal atau sakit saat menelan.
  • Pusing dan Mual: Karbon monoksida, gas tak berwarna dan tak berbau yang dilepaskan saat pembakaran tidak sempurna, dapat mengurangi kapasitas darah mengangkut oksigen, menyebabkan pusing, mual, hingga kelelahan ekstrem. Keluhan sakit perut yang juga dialami warga Kobar bisa jadi merupakan bagian dari respons tubuh terhadap keracunan asap ini, meskipun mungkin juga dipicu oleh faktor lain yang diperparah kondisi lingkungan.
  • Peningkatan Risiko Infeksi: Daya tahan tubuh yang menurun akibat paparan asap berkepanjangan membuat individu lebih rentan terhadap infeksi saluran pernapasan.

Dampak jangka panjangnya? Jangan ditanya! Studi menunjukkan peningkatan risiko penyakit jantung, stroke, bahkan kanker paru-paru bagi mereka yang terpapar asap Karhutla secara berulang dan dalam waktu lama. Ini bukan cuma masalah ‘musiman’ lagi, ini investasi penyakit untuk masa depan. Jadi, kalau ada yang bilang “ah, asap doang!”, berarti dia belum paham betapa ‘edan’-nya efek jangka panjang ini.

Langit Lumpuh: Ekonomi dan Mobilitas Tercekik Asap

Kalau kata lagu, “Ku tak bisa terbang…” itu bukan cuma soal galau putus cinta, tapi juga realita pahit di bandara-bandara saat Karhutla melanda. Visibilitas menurun drastis, bagaikan masuk ke dalam kabut tebal di film horor. Tapi ini bukan film, ini kehidupan nyata yang melumpuhkan mobilitas dan ekonomi.

Lihat saja di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, kabut asap Karhutla sempat melumpuhkan penerbangan. (MetroTVNews.com) Ini artinya apa? Pesawat yang seharusnya mengangkut penumpang, barang, dan harapan, harus ‘nganggur’ di darat. Ini bukan cuma menunda liburan, tapi juga menunda bisnis, distribusi logistik, dan bahkan evakuasi medis darurat.

Dampak Domino dari Kelumpuhan Penerbangan

Ketika penerbangan lumpuh, efeknya kayak domino jatuh berderet:

  1. Kerugian Ekonomi Langsung: Maskapai penerbangan rugi karena pembatalan dan penundaan jadwal. Bandara kehilangan pendapatan dari retribusi dan layanan. Sektor pariwisata terhantam karena wisatawan enggan datang atau terpaksa membatalkan perjalanan.
  2. Gangguan Logistik dan Rantai Pasokan: Barang-barang vital, mulai dari kebutuhan pokok hingga komponen industri, terhambat distribusinya. Bayangkan kalau pasokan obat-obatan atau logistik penting terganggu. Ini bisa menyebabkan kelangkaan dan kenaikan harga barang.
  3. Isolasi Wilayah: Daerah-daerah yang sangat bergantung pada transportasi udara bisa terisolasi. Ini mempersulit akses untuk bantuan kemanusiaan, evakuasi, atau mobilisasi personel penanggulangan bencana.
  4. Ketidakpastian dan Penurunan Produktivitas: Masyarakat dan pelaku usaha hidup dalam ketidakpastian. Karyawan tidak bisa berangkat kerja, pertemuan bisnis tertunda, dan jadwal produksi terganggu. Ini semua berujung pada penurunan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.

Selain penerbangan, transportasi darat dan laut pun bisa terpengaruh. Jarak pandang yang buruk di jalan raya meningkatkan risiko kecelakaan, dan kabut asap juga bisa mengganggu navigasi kapal di perairan pesisir atau sungai. Jadi, kelumpuhan ini bukan hanya soal “nggak bisa terbang”, tapi soal “roda kehidupan jadi seret”. Ekonomi bisa ‘batuk-batuk’ dan ‘sesak napas’ persis seperti warga yang terpapar asap.

Miliar Anggaran: Dana Segunung, Transparansi Dituntut

Kalau ngomongin Karhutla, jangan cuma ngomongin asapnya doang. Ada satu hal lagi yang bikin “Wong Edan” kayak saya geleng-geleng kepala: anggaran! Bayangkan, untuk penanganan Karhutla saja, pemerintah pusat mengalokasikan dana Rp 760 miliar. Angka yang bikin mata melotot, kan? (aktual.com)

Dana segunung ini, oleh DPR diingatkan, harus disalurkan secara transparan dan tepat sasaran. Ini bukan main-main. Uang rakyat itu, Bos! Bukan buat upgrade PC gaming pejabat atau beli skincare mahal. Ini buat memadamkan api, mencegah bencana, dan memulihkan lingkungan. Jadi, harus jelas juntrungannya, tiap rupiahnya!

Tantangan Pengelolaan Anggaran Karhutla

Pengelolaan anggaran Karhutla memang punya tantangan yang ‘edan’ juga:

  1. Skala dan Lingkup Bencana: Karhutla seringkali terjadi di wilayah yang luas dan sulit dijangkau. Ini membutuhkan logistik besar, mulai dari personel, peralatan pemadam, hingga bahan bakar untuk helikopter water bombing. Setiap operasi membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
  2. Pencegahan vs. Penanganan: Anggaran harus dibagi secara proporsional antara upaya pencegahan (sosialisasi, patroli, pembangunan sekat kanal) dan penanganan (pemadaman, evakuasi, penegakan hukum). Seringkali, fokus lebih ke penanganan karena sifatnya yang darurat, padahal pencegahan lebih efektif dalam jangka panjang.
  3. Koordinasi Antar Lembaga: Banyak pihak terlibat dalam penanganan Karhutla: BNPB, KLHK, TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga masyarakat. Koordinasi anggaran di antara berbagai lembaga ini bisa jadi kompleks dan rawan tumpang tindih atau celah.
  4. Risiko Korupsi dan Inefisiensi: Dengan dana sebesar itu dan situasi darurat, risiko penyimpangan atau inefisiensi bisa saja terjadi. Inilah mengapa desakan DPR untuk transparansi dan ketepatsasaran sangat krusial. Setiap pengeluaran harus bisa dipertanggungjawabkan, mulai dari pembelian peralatan, honor petugas, hingga biaya operasional.

Kita sebagai warga negara, sebagai “Wong Edan” yang peduli, harus ikut mengawasi. Anggaran miliaran itu bisa jadi pedang bermata dua. Kalau dikelola dengan baik, bisa jadi penyelamat. Kalau tidak? Ya, bisa jadi “kebakaran” baru di sektor keuangan negara. Dan itu, jujur saja, lebih bikin pusing daripada blue screen of death di Windows 98!

Biang Kerok Utama: Mengapa Gambut Jadi Langganan Kebakaran?

Nah, ini bagian yang teknis. Bagian yang bikin Karhutla di Indonesia seringkali ‘level neraka’. Bukan cuma hutan biasa yang kebakar, tapi seringkali melibatkan lahan gambut. Lahan gambut ini, Mas Bro dan Mbak Sis, adalah ‘monster’ yang berbeda. Dia punya karakteristik unik yang bikin dia jadi biang kerok utama Karhutla yang sulit dipadamkan dan berdampak parah.

RRI.co.id pernah membahas mengapa Karhutla di lahan gambut sering terjadi. (RRI.co.id) Ini bukan sekadar tanah biasa, ini ‘bumi purba’ yang menyimpan karbon segunung dan ketika terbakar, asapnya bisa lebih ‘edan’ dari yang dibayangkan.

Anatomi Lahan Gambut dan Mekanisme Kebakarannya

Lahan gambut adalah akumulasi materi organik (tumbuhan yang mati) yang terurai tidak sempurna dalam kondisi jenuh air dan minim oksigen selama ribuan tahun. Ibaratnya, ini kayak kompos raksasa yang sudah terpendam sangat lama. Kedalamannya bisa mencapai belasan meter! Berikut beberapa karakteristik yang membuatnya rentan terbakar dan sulit dipadamkan:

  1. Kandungan Bahan Organik Tinggi: Gambut terdiri dari 50% hingga 90% bahan organik. Ini adalah bahan bakar super bagi api. Ketika kering, gambut menjadi sangat mudah terbakar.
  2. Sifat Higroskopis dan Hidrofobik: Gambut memiliki kemampuan menyerap air yang luar biasa saat basah, tapi saat kering, ia bisa menjadi hidrofobik (menolak air) di permukaan, sehingga air sulit menembus lapisan dalam yang kering.
  3. Kebakaran Bawah Permukaan (Subsurface Fire): Ini adalah ‘jurus pamungkas’ gambut. Ketika musim kemarau panjang, seperti yang juga melanda delapan kabupaten di Jawa Tengah dengan kekeringan (MetroTVNews.com), muka air tanah di lahan gambut akan turun drastis. Gambut yang seharusnya terendam air menjadi kering kerontang, bahkan sampai ke lapisan dalam. Api kemudian bisa menyebar di bawah permukaan tanah, membakar lapisan gambut secara perlahan, tanpa terlihat jelas di permukaan.
  4. Sulit Dipadamkan: Kebakaran bawah permukaan ini sangat sulit dipadamkan karena api tersembunyi. Air yang disiram dari atas seringkali tidak bisa menembus hingga ke titik api di kedalaman. Api bisa ‘berjalan’ bermeter-meter atau bahkan berkilometer di bawah tanah, lalu tiba-tiba muncul di tempat lain. Ini seperti bermain petak umpet dengan iblis api!
  5. Emisi Gas Rumah Kaca Besar: Pembakaran gambut menghasilkan emisi gas rumah kaca, terutama CO2, yang jauh lebih besar per unit luas dibandingkan kebakaran hutan biasa. Karbon yang sudah tersimpan ribuan tahun dilepaskan dalam sekejap, memperparah perubahan iklim.

Peran Manusia dalam Memicu Kebakaran Gambut

Meskipun gambut punya sifat ‘edan’ begini, jangan lupakan peran manusia sebagai ‘pemicu’. Sebagian besar Karhutla di gambut dimulai dari aktivitas pembukaan lahan (clearing) dengan cara dibakar. Praktik ini, meskipun ilegal, masih sering dilakukan karena dianggap cara termurah dan tercepat untuk membersihkan lahan pertanian atau perkebunan. Proses drainase (pengeringan) lahan gambut untuk perkebunan juga membuat gambut yang tadinya jenuh air menjadi kering dan sangat rentan terbakar. Jadi, kombinasi antara sifat ‘edan’ gambut dan ‘keedanan’ manusia adalah resep sempurna untuk bencana!

Lingkungan Menjerit: Satwa Liar dan Ekosistem di Ambang Batas

Di balik angka-angka kerugian ekonomi dan keluhan kesehatan manusia, ada jeritan alam yang mungkin tak terdengar sejelas sirene pemadam kebakaran, namun dampaknya sama memilukannya. Karhutla adalah teror nyata bagi keanekaragaman hayati kita, khususnya di ekosistem hutan tropis yang kaya.

Ketika hutan terbakar, rumah bagi ribuan spesies musnah dalam sekejap. Pohon-pohon yang membutuhkan puluhan bahkan ratusan tahun untuk tumbuh menjadi abu. Hewan-hewan kehilangan habitat, sumber makanan, dan seringkali nyawa mereka. Kisah pilu tentang orang utan yang mondar-mandir mencari makan di pinggir jalan akibat Karhutla di Kutai Timur adalah salah satu bukti nyata keputusasaan alam. (Kumparan.com)

Dampak Karhutla pada Ekosistem dan Satwa Liar

  1. Kehilangan Habitat: Hutan adalah rumah. Ketika hutan terbakar, hewan-hewan kehilangan tempat tinggal, tempat bersembunyi dari predator, dan tempat berkembang biak. Bagi spesies endemik yang hanya hidup di hutan tertentu, ini bisa berarti kepunahan lokal.
  2. Ketersediaan Pangan Menurun: Api menghanguskan tumbuhan yang menjadi sumber makanan bagi herbivora, yang pada gilirannya berdampak pada karnivora. Orang utan yang mencari makan di pinggir jalan adalah indikasi ekstrem dari krisis pangan ini. Mereka terpaksa keluar dari habitat alaminya, meningkatkan risiko konflik dengan manusia atau kecelakaan lalu lintas.
  3. Kematian Massal: Banyak hewan yang tidak mampu melarikan diri dari kobaran api akan mati terbakar, terperangkap, atau mati lemas karena asap. Hewan-hewan kecil, reptil, amfibi, dan serangga sangat rentan.
  4. Fragmentasi Habitat: Area hutan yang tersisa setelah kebakaran bisa menjadi terfragmentasi, memisahkan populasi hewan dan mengurangi keragaman genetik. Ini membuat mereka lebih rentan terhadap penyakit dan perubahan lingkungan di masa depan.
  5. Emisi Karbon dan Perubahan Iklim: Selain dampak lokal, pembakaran hutan dan terutama lahan gambut melepaskan karbon dioksida dalam jumlah besar ke atmosfer. Seperti yang sudah disebut, gambut adalah penyimpan karbon raksasa. Pelepasan karbon ini mempercepat perubahan iklim global, yang pada gilirannya dapat memicu kekeringan yang lebih parah dan Karhutla yang lebih sering di masa depan. Ini siklus ‘edan’ yang berbahaya!
  6. Kerusakan Kualitas Air dan Tanah: Abu dan sedimen dari area terbakar dapat mencemari sumber air. Struktur tanah juga rusak, mengurangi kesuburan dan kemampuan tanah menahan air, meningkatkan risiko erosi dan banjir di kemudian hari.

Kehadiran orang utan di pinggir jalan adalah ‘alarm’ yang berbunyi kencang. Ini bukan cuma soal mereka mencari makan, tapi juga soal ekosistem yang terganggu parah. Ini tentang keseimbangan alam yang rapuh, yang diguncang habis-habisan oleh api. Kalau kita tidak peduli, maka bukan hanya orang utan, tapi kita sendiri yang akan merasakan dampak dari kerusakannya.

Mitigasi dan Kesiapsiagaan: Siaga Sebelum Api Meraja

Oke, kita sudah bahas penderitaan, kelumpuhan, anggaran, dan biang keroknya. Sekarang, gimana caranya biar “Wong Edan” ini nggak cuma ngedumel doang, tapi juga kasih solusi (atau setidaknya upaya)? Jawabannya ada di mitigasi dan kesiapsiagaan. Ibaratnya, kalau kita tahu server bakal down pas traffic tinggi, ya kita upgrade server atau siapkan load balancer jauh-jauh hari!

Upaya mitigasi dan kesiapsiagaan ini bukan hanya tugas pemerintah pusat, tapi juga melibatkan pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan bahkan masyarakat di tingkat paling bawah. Contoh konkretnya datang dari Polres Kediri yang memperkuat kesiapsiagaan bencana, termasuk mitigasi ancaman Karhutla, banjir, dan tanah longsor. (Ngopibareng.id) Meskipun Kediri bukan pusat Karhutla gambut, langkah ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan bencana, termasuk Karhutla, adalah perhatian nasional.

Strategi Komprehensif dalam Mitigasi Karhutla

  1. Pencegahan Kebakaran:
    • Edukasi dan Sosialisasi: Mengubah perilaku masyarakat agar tidak membakar lahan adalah kunci. Sosialisasi tentang bahaya Karhutla dan alternatif pembukaan lahan yang berkelanjutan.
    • Patroli Terpadu: Patroli rutin di daerah rawan kebakaran oleh tim gabungan (Manggala Agni, TNI, Polri, masyarakat) untuk mendeteksi dini dan mencegah pembakaran.
    • Pengelolaan Lahan Gambut Berkelanjutan: Restorasi gambut, pembangunan sekat kanal, dan rewetting (pembasahan kembali) gambut untuk menjaga tingkat air tanah agar gambut tidak kering. Ini sangat krusial agar gambut tidak menjadi bahan bakar.
    • Pengembangan Alternatif Pembukaan Lahan: Mendorong petani atau perusahaan untuk menggunakan metode non-bakar dalam menyiapkan lahan.
    • Sistem Peringatan Dini: Pemanfaatan teknologi satelit untuk mendeteksi titik panas (hotspot) secara real-time. Informasi ini harus cepat disebarkan ke tim di lapangan untuk tindakan pencegahan atau pemadaman awal.
  2. Penanganan Dini dan Pemadaman:
    • Pembentukan Regu Pemadam Kebakaran Tingkat Desa: Melatih masyarakat setempat untuk menjadi garda terdepan pemadam kebakaran. Mereka yang paling tahu medan dan bisa bertindak cepat.
    • Peralatan Memadai: Penyediaan peralatan pemadam yang cukup, baik untuk darat (selang, pompa air) maupun udara (helikopter water bombing), serta memastikan personel terlatih menggunakannya.
    • Teknik Pemadaman Khusus Gambut: Mengingat sifat kebakaran gambut yang bawah permukaan, teknik pemadaman harus disesuaikan, seperti injeksi air dalam ke dalam gambut untuk memastikan api benar-benar padam hingga ke akar.
  3. Penegakan Hukum:
    • Tindakan Tegas terhadap Pembakar Lahan: Memberikan sanksi hukum yang berat bagi individu atau korporasi yang terbukti sengaja membakar lahan. Ini penting untuk memberikan efek jera.
    • Penguatan Investigasi: Memastikan setiap kasus kebakaran diselidiki tuntas untuk menemukan pelaku dan motifnya.
  4. Pemulihan Pasca-Kebakaran:
    • Rehabilitasi Hutan dan Lahan: Penanaman kembali di area yang terbakar dengan spesies yang sesuai.
    • Pemulihan Ekosistem: Upaya untuk membantu satwa liar yang terdampak dan memulihkan fungsi ekosistem.

Kekeringan yang melanda berbagai wilayah, seperti delapan kabupaten di Jawa Tengah, adalah pengingat bahwa kondisi iklim semakin ekstrem. (MetroTVNews.com) Kekeringan ini tidak hanya menyebabkan krisis air, tetapi juga meningkatkan risiko Karhutla di mana pun, tidak hanya di lahan gambut. Oleh karena itu, kesiapsiagaan terhadap bencana harus menjadi agenda prioritas di seluruh negeri. Ini bukan lagi soal “kalau” terbakar, tapi “bagaimana jika” terbakar dan “apa yang kita lakukan untuk mencegah dan memadamkannya”.

Kesimpulan: Karhutla, Bencana Multidimensi yang Membutuhkan Kecerdasan Kolektif

Jadi, begitulah, Mas Bro dan Mbak Sis. Karhutla itu bukan sekadar api yang membakar pohon. Ini adalah drama panjang yang melibatkan kesehatan manusia, kelumpuhan ekonomi, tantangan pengelolaan anggaran miliaran, keedanan lahan gambut yang sulit ditaklukkan, sampai jeritan pilu satwa liar seperti orang utan yang kehilangan rumah.

Dari analisa “Wong Edan” ini, kita bisa simpulkan bahwa Karhutla adalah bencana multidimensi yang kompleks. Tidak ada satu pun solusi ajaib yang bisa menyelesaikannya dalam semalam. Ini membutuhkan kecerdasan kolektif, kerja sama lintas sektor, dari pemerintah pusat hingga masyarakat desa, dari aparat penegak hukum hingga para ilmuwan dan pegiat lingkungan.

Kita tidak bisa terus-menerus terjebak dalam siklus ‘edan’ ini: kemarau datang, api menyala, asap mengepul, anggaran dikucurkan, lalu kembali lagi ke titik nol. Kita harus memutus mata rantai ini. Dengan pencegahan yang serius, penegakan hukum yang tegas, pengelolaan lahan yang bertanggung jawab, dan kesiapsiagaan yang mumpuni, kita bisa berharap untuk langit yang lebih biru dan udara yang lebih bersih di masa depan. Anggaran miliaran itu bukan untuk kita bakar percuma, tapi untuk investasi masa depan yang lebih sehat dan lestari. Jangan sampai kita jadi ‘edan’ beneran karena terus-terusan mengulang kesalahan yang sama. Salam ‘edan’ tapi waras, dari Wong Edan!

[ END_OF_ENTRY ]
[ SUCCESS: COPIED_TO_CLIPBOARD ]
[ ARCHIVAL_COMMAND_INDEX ]
SHOW_COMMANDS?
SEARCH_ARCHIVECTRL+K / /
GOTO_INDEXSHIFT+H
NEXT_ENTRY_PAGE]
PREV_ENTRY_PAGE[
COPY_LINKSHIFT+S
CITE_SPECIMENC
MOVE_FOCUSW / S
ACTION_KEYENTER
PRINT_SPECIMENCTRL+P
PRECISION_DOWNJ
PRECISION_UPK
CLOSE_ALLESC
[ ARCHIVAL_CITATION_SPECIMEN ]
APA_FORMAT
azzar. (2026). Karhutla: Bara Dendam Gambut, Langit Lumpuh, dan Anggaran yang Tak Boleh Ikut Edan!. Glass Gallery. Retrieved from https://wp.glassgallery.my.id/karhutla-bara-dendam-gambut-langit-lumpuh-dan-anggaran-yang-tak-boleh-ikut-edan/
[ CLICK_TO_COPY ]
MLA_FORMAT
azzar. "Karhutla: Bara Dendam Gambut, Langit Lumpuh, dan Anggaran yang Tak Boleh Ikut Edan!." Glass Gallery, 2026, September 19, https://wp.glassgallery.my.id/karhutla-bara-dendam-gambut-langit-lumpuh-dan-anggaran-yang-tak-boleh-ikut-edan/.
[ CLICK_TO_COPY ]
CHICAGO_STYLE
azzar. "Karhutla: Bara Dendam Gambut, Langit Lumpuh, dan Anggaran yang Tak Boleh Ikut Edan!." Glass Gallery. Last modified 2026, September 19. https://wp.glassgallery.my.id/karhutla-bara-dendam-gambut-langit-lumpuh-dan-anggaran-yang-tak-boleh-ikut-edan/.
[ CLICK_TO_COPY ]
BIBTEX_ENTRY
@misc{glassgallery_583,
  author = "azzar",
  title = "Karhutla: Bara Dendam Gambut, Langit Lumpuh, dan Anggaran yang Tak Boleh Ikut Edan!",
  howpublished = "\url{https://wp.glassgallery.my.id/karhutla-bara-dendam-gambut-langit-lumpuh-dan-anggaran-yang-tak-boleh-ikut-edan/}",
  year = "2026",
  note = "Retrieved from Glass Gallery"
}
[ CLICK_TO_COPY ]
TECHNICAL_REF
[ REF: KARHUTLA: BARA DENDAM GAMBUT, LANGIT LUMPUH, DAN ANGGARAN YANG TAK BOLEH IKUT EDAN! | SRC: GLASS GALLERY | INDEX: 583 ]
[ CLICK_TO_COPY ]