[ ACCESSING_ARCHIVE ]

Banjir Berulang: Dari Anggaran Hingga Proyek, Indonesia & Vietnam Bertindak.

August 19, 2026 • BY azzar
[ READ_TIME: 14 MIN ] |
. . .

Selamat datang, para sedulur sekalian, di blognya si Wong Edan! Kali ini, kita nggak lagi bahas gadget terbaru atau trik nge-hack WiFi tetangga. Oh, tidak! Kali ini kita akan menyelami lautan (secara harfiah, kadang-kadang) masalah yang lebih pelik, lebih mendalam, dan sayangnya, lebih sering datang bertamu: banjir berulang. Siapa sih yang nggak pusing kalau rumahnya mendadak jadi kolam renang pribadi tanpa izin? Atau kalau jalanan berubah fungsi jadi kali dadakan? Dijamin, yang waras pun bisa sedikit ‘edan’ kalau sudah berhadapan dengan air bah.

Mungkin ada yang mikir, “Ah, paling bahasnya gitu-gitu aja.” Eits, tunggu dulu! Si Wong Edan ini bukan blogger kaleng-kaleng. Kita akan bongkar tuntas, sampai ke akar-akarnya, dari mulai anggaran banjir yang bikin dompet negara (dan kita semua) teriak, sampai ke proyek-proyek banjir yang digeber siang-malam. Kita akan intip bagaimana dua negara tetangga yang punya nasib mirip-mirip soal air bah, yakni Indonesia dan Vietnam, berjibaku mengatasinya. Ini bukan sekadar curhat, ini analisis teknis level dewa, tapi tetap dengan gaya Wong Edan yang renyah dan gampang dicerna. Siap-siap, karena ini akan jadi artikel paling teknis, paling panjang, dan paling mendalam yang pernah kamu baca tentang banjir! Yuk, gas!

Gelombang Derita yang Terus Datang: Akar Masalah Banjir Berulang di Nusantara dan Negeri Naga Biru

Banjir ini, sedulur, bukan tamu dadakan yang cuma sekali dua kali mampir. Di banyak tempat, dia sudah jadi langganan, malah mungkin sudah hafal letak dapur dan kamar mandi rumah kita. Fenomena banjir berulang ini adalah cerminan dari kompleksitas masalah yang bukan hanya soal curah hujan tinggi, tapi juga melibatkan perubahan iklim, tata ruang yang amburadul, degradasi lingkungan, dan tentu saja, infrastruktur yang belum mumpuni. Di Indonesia, misalnya, daerah seperti Padang seringkali harus berhadapan dengan ancaman banjir bandang yang datang tiba-tiba, menyapu semua yang ada di jalurnya. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat bahkan harus merancang simulasi khusus pada tahun 2027 sebagai bentuk antisipasi jangka panjang. Ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya jangka pendek, tapi butuh strategi puluhan tahun ke depan untuk bisa diatasi secara holistik. Sumber: regional.kompas.com

Sementara itu, di Aceh, dampaknya langsung terasa pada sektor vital pertanian. Sebanyak 67 daerah irigasi terdampak banjir dan longsor. Bayangkan, 67! Itu bukan angka main-main, cah. Irigasi adalah tulang punggung pertanian, kalau ini rusak, bukan cuma petani yang gigit jari, tapi ketahanan pangan lokal pun terancam. Kerusakan infrastruktur semacam ini membutuhkan upaya pemulihan yang masif, dengan target penyelesaian akhir 2026. Ini menunjukkan bahwa banjir bukan cuma soal genangan air, tapi juga soal kerusakan sistemik yang butuh waktu dan sumber daya besar untuk diperbaiki. Sumber: Waspada Aceh

Di sisi lain, Vietnam, sebagai negara yang juga sering dilanda musim hujan ekstrem dan badai, juga tak luput dari masalah serupa. Mereka pun berjibaku dengan proyek-proyek konstruksi yang diselesaikan siang dan malam untuk mengatasi banjir. Ini menunjukkan respons yang sangat agresif terhadap ancaman air bah. Sumber: Vietnam.vn. Permasalahan banjir ini, di kedua negara, bukan hanya sekadar teknis hidrologi, tapi juga melibatkan aspek sosial-ekonomi yang mendalam, mulai dari alokasi anggaran banjir hingga desain proyek-proyek banjir yang efektif dan berkelanjutan. Intinya, banjir bukan cuma bikin basah, tapi juga bikin masalah!

Jebakan Anggaran dan Gelombang Birokrasi: Respons Finansial Indonesia Terhadap Bencana

Kalau sudah bicara bencana, apalagi yang berulang, pasti ujung-ujungnya sampai ke duit. Ya, anggaran banjir ini memang jadi sorotan utama. Tidak bisa dipungkiri, penanganan banjir, baik itu untuk mitigasi, penanggulangan, maupun rehabilitasi pasca-bencana, membutuhkan dana yang tidak sedikit. Di Indonesia, alokasi anggaran seringkali menjadi perdebatan sengit, terutama di tingkat daerah yang paling terdampak. Contohnya, di Kabupaten Batu Bara, ada desakan kuat dari tiga fraksi DPRD agar anggaran sebesar Rp165,9 Miliar dari Dana TKD (Transfer Keuangan Daerah) segera digelontorkan untuk korban banjir. Sumber: Berita Indonesia News

Angka Rp165,9 Miliar itu bukanlah receh. Ini adalah jumlah yang signifikan, yang jika dikelola dengan baik, bisa sangat membantu proses pemulihan dan penanggulangan jangka panjang. Namun, seringkali proses pencairan dana ini tidak semulus yang dibayangkan. Ada berbagai tahapan birokrasi yang harus dilalui, mulai dari pengajuan, verifikasi, hingga persetujuan. Dalam situasi darurat, setiap detik berharga. Keterlambatan dalam penyaluran dana bisa berarti lebih banyak penderitaan bagi korban, lambatnya proses rehabilitasi infrastruktur, dan terhambatnya upaya pencegahan di masa mendatang.

Dana Transfer Keuangan Daerah (TKD) sendiri merupakan salah satu instrumen penting dalam otonomi daerah, yang memungkinkan pemerintah daerah memiliki fleksibilitas dalam mengalokasikan sumber daya sesuai kebutuhan lokal. Namun, penggunaan dana TKD untuk penanggulangan bencana memerlukan transparansi dan akuntabilitas yang tinggi. Fraksi-fraksi di DPRD Batu Bara yang mendesak pencairan ini menunjukkan adanya tekanan politik dan keprihatinan terhadap kondisi masyarakat. Ini juga menyoroti peran lembaga legislatif dalam mengawasi eksekutif dan memastikan bahwa bantuan sampai kepada yang berhak secepatnya. Pertanyaan krusialnya: apakah dana ini cukup untuk mitigasi jangka panjang, atau hanya sekadar pemadam api darurat? Di sinilah pentingnya perencanaan anggaran banjir yang komprehensif, bukan cuma reaktif, tapi proaktif dan antisipatif.

Selain itu, pengelolaan dana bantuan ini juga harus diawasi ketat untuk menghindari penyimpangan. Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa dana bencana, yang seharusnya digunakan untuk kemanusiaan, kadang-kadang menjadi celah bagi oknum tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, sistem pengawasan yang kuat, melibatkan berbagai pihak mulai dari masyarakat, media, hingga lembaga anti-korupsi, mutlak diperlukan. Ini bukan hanya soal angka, tapi juga soal kepercayaan publik dan efektivitas negara dalam melindungi warganya.

Rekayasa Ketahanan: Pembangunan dan Rehabilitasi Infrastruktur Kunci Mitigasi

Setelah urusan duit beres (atau setidaknya, sedang diurus), saatnya kita bicara tentang aksi nyata di lapangan: proyek-proyek banjir. Ini adalah bagian yang paling teknis, paling njelimet, dan paling bikin pusing para insinyur. Tapi ya gimana lagi, kalau tidak dikerjakan, mau sampai kapan kita terus-terusan jadi korban air bah? Di Indonesia, fokus pada rehabilitasi infrastruktur pasca-bencana menjadi sangat krusial, terutama di daerah yang secara ekonomi sangat bergantung pada sektor tertentu. Ambil contoh Aceh, dengan 67 daerah irigasi yang terdampak banjir dan longsor. Ini bukan hanya angka statistik, tapi representasi dari ribuan hektar sawah dan ladang yang kehilangan pasokan air vitalnya.

Kerusakan irigasi berarti ancaman serius bagi ketahanan pangan. Air adalah nyawa bagi pertanian. Tanpa sistem irigasi yang berfungsi, panen bisa gagal, petani merugi, dan pasokan bahan pangan terganggu. Proses pemulihan ini tidak instan. Ditargetkan rampung pada akhir 2026, ini adalah proyek multi-tahun yang melibatkan perencanaan detail, mobilisasi alat berat, tenaga kerja ahli, dan tentu saja, material konstruksi yang tidak sedikit. Jenis kerusakan irigasi bisa bervariasi, mulai dari saluran yang jebol, tanggul yang longsor, bendungan kecil yang rusak, hingga sistem pompa yang tidak berfungsi. Setiap jenis kerusakan memerlukan pendekatan teknis yang berbeda.

Misalnya, perbaikan saluran irigasi yang jebol mungkin memerlukan rekonstruksi dinding saluran dengan beton bertulang atau pasangan batu kali, dilengkapi dengan perlindungan erosi. Sementara itu, untuk tanggul yang longsor, mungkin dibutuhkan pekerjaan stabilisasi lereng, penggunaan geotekstil, atau bahkan perubahan desain profil tanggul agar lebih tahan terhadap tekanan air. Semua ini harus dihitung secara presisi oleh insinyur sipil dan hidrologi, mempertimbangkan karakteristik tanah, debit air, dan potensi bencana di masa depan.

Beyond the technicalities of repair, this project also involves significant logistical challenges. Bringing heavy equipment to remote areas, ensuring a stable supply chain for materials, and managing a large workforce are complex tasks. Furthermore, the recovery must be integrated with broader strategies for mitigasi banjir dan penanggulangan banjir, considering not just the immediate repair but also how to make these systems more resilient against future events. This could mean redesigning systems with higher flood capacities, implementing early warning systems, or integrating natural-based solutions like reforestation in upstream areas to reduce runoff and erosion. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kehidupan dan penghidupan masyarakat setempat, bukan cuma tambal sulam sesaat.

Gerak Cepat Vietnam: Dari Proyek Infrastruktur Kilat Hingga Edukasi Bencana di Sekolah

Kalau Indonesia fokus pada rehabilitasi dan perencanaan jangka panjang, Vietnam menunjukkan pendekatan yang tak kalah heroik, bahkan cenderung lebih agresif dalam penanggulangan banjir. Vietnam seringkali menghadapi musim hujan dan badai tropis yang intens, membuat mereka harus sangat sigap. Ada laporan bahwa proyek-proyek konstruksi diselesaikan siang dan malam untuk mengatasi banjir. Sumber: Vietnam.vn. Kata kunci “siang dan malam” ini bukan sekadar retorika, cah. Ini adalah indikasi tingkat urgensi dan komitmen pemerintah serta masyarakat untuk segera menuntaskan pekerjaan krusial demi keselamatan dan keberlangsungan hidup.

Lalu, proyek apa saja sih yang digeber siang-malam ini? Biasanya, proyek semacam ini mencakup pembangunan atau penguatan tanggul, pembuatan dan perbaikan sistem drainase perkotaan, pembangunan kanal-kanal pengendali banjir, pengerukan sungai, hingga mungkin pembangunan dam atau waduk kecil untuk menampung kelebihan air. Kerja keras non-stop ini menunjukkan bahwa mereka memahami betul bahwa waktu adalah esensi. Setiap keterlambatan bisa berarti kerugian yang lebih besar, baik materiil maupun korban jiwa. Pendekatan ini mencerminkan mentalitas “get things done” yang sangat diperlukan dalam menghadapi bencana alam.

Selain pendekatan infrastruktur yang masif, Vietnam juga sangat proaktif dalam aspek pencegahan bencana dan peningkatan kesadaran masyarakat. Ada fakta menarik bahwa sekolah secara proaktif memberikan panduan tentang pencegahan dan mitigasi bencana, untuk memastikan keselamatan siswa sepenuhnya. Sumber: Vietnam.vn. Ini adalah langkah yang sangat cerdas dan patut ditiru. Mengedukasi generasi muda sejak dini tentang risiko bencana dan cara menghadapinya akan membangun masyarakat yang lebih tangguh dan siap siaga. Bayangkan, jika setiap anak sekolah tahu apa yang harus dilakukan saat banjir datang, bagaimana evakuasi yang benar, atau cara menyelamatkan diri dan orang lain, dampak korban jiwa dan kerugian bisa diminimalisir secara signifikan.

Program edukasi ini bisa mencakup latihan simulasi evakuasi, pengenalan rute aman, penyediaan peralatan darurat dasar di sekolah, hingga pelajaran tentang pentingnya menjaga lingkungan agar tidak memperparah banjir. Ini bukan cuma teori di kelas, tapi juga praktik langsung yang membentuk mental dan kesiapan individu. Kombinasi antara pembangunan infrastruktur yang cepat dan masif, ditambah dengan program edukasi yang kuat, menjadikan Vietnam sebagai contoh bagaimana sebuah negara bisa bertindak efektif dalam menghadapi tantangan banjir berulang. Ini adalah pelajaran berharga tentang bagaimana proyek-proyek banjir tidak hanya melibatkan beton dan baja, tetapi juga investasi pada sumber daya manusia dan kesadaran kolektif.

Dampak Ekonomi dan Sosial: Ketika Air Bah Melumpuhkan Kehidupan

Banjir ini, cah, bukan cuma bikin capek ngepel atau ganti kasur. Dampaknya itu multi-dimensi, menyentuh setiap aspek kehidupan, dari dompet sampai mental. Secara ekonomi, kerugian akibat banjir berulang sangat fantastis. Mari kita kembali ke Aceh dengan 67 daerah irigasi yang terdampak. Ini bukan hanya soal kerusakan fisik saluran, tapi juga berimplikasi langsung pada hasil pertanian, pendapatan petani, dan rantai pasokan pangan. Ketika sawah terendam, tanaman rusak, panen gagal, maka petani kehilangan mata pencarian. Ini bisa memicu kemiskinan dan kerentanan ekonomi di tingkat rumah tangga, bahkan memengaruhi stabilitas harga pangan di pasar lokal.

Selain itu, kerusakan infrastruktur lainnya, seperti jalan, jembatan, dan listrik, juga menimbulkan biaya ekonomi yang besar. Jalan yang putus menghambat distribusi barang dan jasa, melumpuhkan roda ekonomi. Listrik yang padam menghentikan aktivitas industri dan rumah tangga. Semua ini berarti kerugian miliaran rupiah yang seharusnya bisa dialokasikan untuk pembangunan atau kesejahteraan lain, malah terpakai untuk menambal kerugian akibat bencana.

Dari sisi sosial, dampaknya tidak kalah parah. Korban banjir seringkali harus mengungsi, kehilangan tempat tinggal, barang-barang berharga, dan bahkan anggota keluarga. Trauma psikologis akibat bencana bisa bertahan lama, terutama bagi anak-anak. Lingkungan yang kotor pasca-banjir juga rentan terhadap penyebaran penyakit seperti diare, leptospirosis, dan infeksi kulit. Komunitas yang terpecah karena evakuasi atau relokasi juga membutuhkan waktu untuk pulih dan membangun kembali kohesi sosial.

Ancaman banjir bandang yang berulang di Padang, misalnya, menciptakan kecemasan yang konstan di masyarakat. Bagaimana mungkin hidup tenang jika setiap kali hujan deras, ada kekhawatiran air akan datang meluap? Ini memengaruhi kesehatan mental, produktivitas, dan kualitas hidup secara keseluruhan. Dana sebesar Rp165,9 Miliar yang didesak di Batu Bara untuk korban banjir menunjukkan betapa besarnya kebutuhan akan bantuan langsung dan rehabilitasi sosial. Uang itu bukan sekadar angka, tapi harapan bagi mereka yang kehilangan segalanya, untuk bisa memulai kembali hidup mereka.

Oleh karena itu, mitigasi banjir bukan hanya tentang membangun tanggul atau mengeruk sungai, tapi juga tentang melindungi ekonomi dan menjaga keutuhan sosial masyarakat. Ini adalah investasi jangka panjang untuk stabilitas dan kesejahteraan, sebuah komponen penting dalam pembangunan berkelanjutan yang harus dipertimbangkan dalam setiap anggaran banjir dan proyek-proyek banjir.

Inovasi dan Kolaborasi: Membangun Ketahanan di Era Digital dan Iklim Ekstrem

Oke, sedulur. Kita sudah melihat betapa rumitnya masalah banjir ini. Tapi bukan berarti kita harus pasrah, dong? Si Wong Edan percaya, di tengah segala kekacauan, selalu ada celah untuk inovasi dan perbaikan. Di era digital ini, teknologi bisa menjadi sekutu kuat kita dalam menghadapi banjir berulang. Meskipun sumber yang kita punya tidak secara spesifik menyebutkan teknologi canggih yang sedang diterapkan, kita bisa melihat potensinya dalam konteks tindakan yang dilakukan Indonesia dan Vietnam.

Misalnya, untuk daerah seperti Padang yang rentan banjir bandang, pengembangan sistem peringatan dini (Early Warning System) berbasis IoT (Internet of Things) dan AI (Artificial Intelligence) bisa sangat membantu. Sensor-sensor ketinggian air dan curah hujan yang terintegrasi dengan satelit dan model prediksi cuaca dapat memberikan informasi akurat secara real-time. Data ini kemudian dianalisis oleh AI untuk memprediksi potensi banjir dan memberikan peringatan dini kepada masyarakat melalui SMS, aplikasi seluler, atau bahkan pengeras suara otomatis di desa-desa. Ini akan memberikan waktu yang cukup bagi BPBD untuk melakukan evakuasi dan masyarakat untuk mempersiapkan diri, seperti simulasi yang sedang disiapkan BPBD Padang untuk 2027. Ini adalah evolusi alami dari perencanaan dan kesiapsiagaan.

Kemudian, dalam konteks rehabilitasi infrastruktur seperti irigasi di Aceh, penggunaan Drone dan GIS (Geographic Information System) dapat mempercepat pemetaan kerusakan dan perencanaan perbaikan. Drone bisa memetakan area terdampak dengan cepat dan detail, sementara GIS membantu insinyur dalam mendesain ulang sistem irigasi yang lebih tahan bencana, mempertimbangkan topografi, hidrologi, dan potensi longsor di masa depan. Data dari drone juga bisa membantu dalam pemantauan progres proyek yang ditargetkan rampung 2026.

Tak hanya itu, kolaborasi multi-pihak juga menjadi kunci. Pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat sipil harus bergandengan tangan. Pemerintah menyediakan regulasi dan anggaran (seperti dana TKD di Batu Bara), swasta bisa menawarkan solusi teknologi dan pendanaan, akademisi melakukan penelitian dan inovasi, dan masyarakat sipil bertindak sebagai pengawas sekaligus pelaksana di tingkat tapak (seperti edukasi di sekolah-sekolah Vietnam). Contoh Vietnam yang proaktif mengedukasi siswa tentang pencegahan bencana adalah bentuk kolaborasi dengan komunitas pendidikan. Ini menciptakan lingkaran kebajikan di mana pengetahuan dan tindakan saling menguatkan.

Dan yang terpenting, pendekatan berbasis alam (Nature-Based Solutions – NBS) harus makin digalakkan. Reboisasi di hulu, pembangunan biopori di perkotaan, restorasi lahan basah, dan perlindungan mangrove di pesisir adalah cara-cara yang lebih alami dan seringkali lebih berkelanjutan dalam mitigasi banjir. Ini bukan hanya mengatasi masalah air, tapi juga memperbaiki ekosistem, meningkatkan keanekaragaman hayati, dan bahkan mengurangi jejak karbon. Jadi, proyek-proyek banjir tidak selalu harus beton melulu, tapi bisa juga dengan “menanam” ketahanan.

Singkatnya, masa depan penanggulangan banjir adalah tentang sinergi antara teknologi canggih, kolaborasi yang erat, dan penghargaan terhadap alam. Hanya dengan kombinasi ini kita bisa membangun masyarakat yang benar-benar tangguh dan siap menghadapi tantangan iklim ekstrem di masa depan.

Kesimpulan Wong Edan: Belajar dari Air, Bertindak demi Masa Depan

Nah, sedulur, sudah panjang lebar kita ngobrolin soal air bah ini. Dari anggaran banjir yang bikin pusing, sampai proyek-proyek banjir yang digarap mati-matian di Indonesia dan Vietnam. Intinya, banjir berulang ini adalah masalah serius, kompleks, dan butuh penanganan yang juga serius dan kompleks. Tidak bisa cuma mengandalkan reaksi sesaat, tapi harus ada perencanaan matang, eksekusi cepat, dan evaluasi berkelanjutan.

Dari Indonesia, kita melihat upaya serius dalam rehabilitasi infrastruktur pertanian yang vital seperti di Aceh, serta perencanaan jangka panjang seperti simulasi bencana di Padang. Tantangan birokrasi dan penyaluran dana, seperti desakan DPRD Batu Bara, juga menjadi cerminan bahwa koordinasi dan transparansi adalah kunci. Sementara itu, dari Vietnam, kita belajar tentang kecepatan dan agresivitas dalam pembangunan infrastruktur (bekerja siang dan malam), serta pentingnya investasi pada sumber daya manusia melalui edukasi dini di sekolah.

Sebagai Wong Edan yang selalu melihat segala sesuatu dari kacamata teknologi dan inovasi, saya optimistis bahwa dengan pemanfaatan teknologi yang tepat – mulai dari sistem peringatan dini berbasis AI, pemetaan dengan drone, hingga pembangunan infrastruktur yang cerdas dan berkelanjutan – kita bisa menghadapi tantangan ini. Kolaborasi antar-pihak, dari pemerintah hingga masyarakat, juga tidak bisa ditawar lagi. Banjir ini bukan musuh, tapi guru yang terus-menerus mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga alam, merencanakan masa depan, dan bertindak cepat.

Ingat, air itu sifatnya selalu mencari jalan. Begitu juga kita, sebagai manusia yang diberi akal dan pikiran, harus selalu mencari jalan terbaik untuk hidup berdampingan dengan alam, bukan melawannya. Jadi, mari kita terus belajar, berinovasi, dan bertindak. Karena pada akhirnya, ketahanan terhadap banjir bukan hanya soal infrastruktur yang kokoh, tapi juga masyarakat yang cerdas dan siap siaga. Salam edan, salam tangguh!

[ END_OF_ENTRY ]
[ SUCCESS: COPIED_TO_CLIPBOARD ]
[ ARCHIVAL_COMMAND_INDEX ]
SHOW_COMMANDS?
SEARCH_ARCHIVECTRL+K / /
GOTO_INDEXSHIFT+H
NEXT_ENTRY_PAGE]
PREV_ENTRY_PAGE[
COPY_LINKSHIFT+S
CITE_SPECIMENC
MOVE_FOCUSW / S
ACTION_KEYENTER
PRINT_SPECIMENCTRL+P
PRECISION_DOWNJ
PRECISION_UPK
CLOSE_ALLESC
[ ARCHIVAL_CITATION_SPECIMEN ]
APA_FORMAT
azzar. (2026). Banjir Berulang: Dari Anggaran Hingga Proyek, Indonesia & Vietnam Bertindak.. Glass Gallery. Retrieved from https://wp.glassgallery.my.id/banjir-berulang-dari-anggaran-hingga-proyek-indonesia-vietnam-bertindak/
[ CLICK_TO_COPY ]
MLA_FORMAT
azzar. "Banjir Berulang: Dari Anggaran Hingga Proyek, Indonesia & Vietnam Bertindak.." Glass Gallery, 2026, August 19, https://wp.glassgallery.my.id/banjir-berulang-dari-anggaran-hingga-proyek-indonesia-vietnam-bertindak/.
[ CLICK_TO_COPY ]
CHICAGO_STYLE
azzar. "Banjir Berulang: Dari Anggaran Hingga Proyek, Indonesia & Vietnam Bertindak.." Glass Gallery. Last modified 2026, August 19. https://wp.glassgallery.my.id/banjir-berulang-dari-anggaran-hingga-proyek-indonesia-vietnam-bertindak/.
[ CLICK_TO_COPY ]
BIBTEX_ENTRY
@misc{glassgallery_178,
  author = "azzar",
  title = "Banjir Berulang: Dari Anggaran Hingga Proyek, Indonesia & Vietnam Bertindak.",
  howpublished = "\url{https://wp.glassgallery.my.id/banjir-berulang-dari-anggaran-hingga-proyek-indonesia-vietnam-bertindak/}",
  year = "2026",
  note = "Retrieved from Glass Gallery"
}
[ CLICK_TO_COPY ]
TECHNICAL_REF
[ REF: BANJIR BERULANG: DARI ANGGARAN HINGGA PROYEK, INDONESIA & VIETNAM BERTINDAK. | SRC: GLASS GALLERY | INDEX: 178 ]
[ CLICK_TO_COPY ]