[ ACCESSING_ARCHIVE ]

BMKG: Siaga Cuaca Ekstrem! Bahaya Mengancam Pelayaran hingga Pangan, Siap-siap Gundah Gulana!

September 21, 2026 • BY azzar
[ READ_TIME: 13 MIN ] |
. . .

Selamat datang di blog ‘Wong Edan’, tempatnya informasi teknis yang bikin otak pinter tapi hati tetap santuy! Kali ini, kita enggak bahas bug di kode atau server down yang bikin jenggotan. Enggak! Kita mau ngomongin sesuatu yang lebih “real-time” dan bisa bikin hidupmu mendadak jadi drama Korea: Cuaca Ekstrem! Dan bintang utamanya? Tentu saja, pahlawan tanpa tanda jasa kita: BMKG. Mereka ini ibarat “debugger” alam semesta, yang ngasih tahu kalau ada potensi error di sistem cuaca kita. Jadi, siap-siap, karena peringatan BMKG kali ini bukan cuma angin lalu, tapi warning yang bisa bikin kapal oleng, sawah banjir, sampai harga tempe melambung tinggi!

Bayangkan, kamu lagi asyik nge-scroll TikTok, tiba-tiba ada notifikasi dari BMKG. Bunyinya bukan “like” atau “follow“, tapi “Waspada! Hujan Lebat Disertai Petir!” Atau lebih parah, buat para pelaut tangguh, “Awas! Gelombang Tinggi Mengancam Keselamatan Pelayaran!” Jujur, ini bukan prank, Gaes! Ini serius. Dampaknya bisa nyenggol sektor krusial kayak pelayaran, perikanan, bahkan yang paling dekat dengan perut kita: pangan. Jadi, mari kita selami lebih dalam, seberapa edan sih cuaca ekstrem ini dan bagaimana BMKG berusaha menyelamatkan kita dari “kegilaan” alam?

BMKG: Sang Detektor Dini Alam Semesta (Bukan Dukun Beranak!)

Oke, sebelum kita panik massal, mari kenalan dulu sama BMKG. Singkatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, lembaga ini bukan sekadar tukang ramal cuaca yang bisanya cuma bilang “hari ini cerah berawan” lalu besoknya hujan badai. Bukan! BMKG adalah lembaga pemerintah non-departemen di Indonesia yang bertugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika secara profesional dan kredibel (Sumber: BMKG). Mereka ini ilmuwan, insinyur, dan analis data sejati yang menggunakan teknologi canggih, mulai dari satelit, radar cuaca, stasiun pengamatan otomatis, hingga model prediksi numerik paling mutakhir untuk memantau, menganalisis, dan memprediksi segala gerak-gerik alam.

Pekerjaan mereka itu krusial, coy! Tanpa BMKG, kita mungkin bakal nyemplung ke laut dengan kapal kecil saat gelombang lagi setinggi gedung lima lantai, atau baru sadar sawah kebanjiran setelah padinya hanyut semua. Mereka adalah mata dan telinga kita di langit dan di bawah tanah, ngasih tahu potensi bahaya sebelum terjadi. Jadi, kalau BMKG sudah bersuara, itu bukan karena mereka iseng, tapi karena data dan analisis mereka menunjukkan ada anomali yang perlu kita waspadai. Anggap saja mereka ini “antivirus” alam kita. Mereka mendeteksi potensi “malware” cuaca sebelum sempat merusak sistem kehidupan kita.

Fenomena Cuaca Ekstrem: Ketika Alam Lagi “Bad Mood” Akut!

Cuaca ekstrem itu bukan cuma sekadar gerimis manja yang bikin kamu gagal ngedate, atau angin sepoi-sepoi yang bikin rambutmu berantakan ala bintang iklan sampo. Lebih dari itu! Cuaca ekstrem adalah kondisi cuaca yang tidak biasa dan berpotensi menimbulkan kerugian atau bencana. Dalam konteks peringatan BMKG saat ini, kita bicara tentang beberapa “paket kombo” horor:

  • Gelombang Tinggi: Ini adalah momok bagi para pelaut. Gelombang bisa mencapai ketinggian meteran, bahkan puluhan meter, menciptakan kondisi laut yang sangat berbahaya.
  • Hujan Lebat Disertai Petir: Bukan cuma bikin basah kuyup, tapi juga bisa menyebabkan banjir bandang, tanah longsor, dan bahaya sambaran petir yang mematikan. Intensitasnya seringkali di atas normal.
  • Angin Kencang: Ini sering jadi “sidekick” dari hujan lebat. Angin kencang bisa merobohkan pohon, merusak bangunan, dan mengganggu stabilitas transportasi.

Kenapa sih alam bisa tiba-tiba “bad mood” begini? Ada banyak faktor teknisnya, mulai dari dinamika atmosfer, suhu permukaan laut yang tidak biasa, hingga pola tekanan rendah atau tinggi yang menciptakan pergerakan massa udara yang ekstrem. Fenomena seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) atau gelombang Rossby yang bergerak di atmosfer, bisa memicu pembentukan awan konvektif raksasa yang menyebabkan hujan lebat dan badai petir. Belum lagi dampak dari perubahan iklim global yang kian hari kian nyata, menjadikan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem ini meningkat. Ini bukan lagi teori konspirasi, tapi fakta ilmiah yang dianalisis oleh para ahli meteorologi di BMKG.

Gelombang Tinggi: Ancaman Nyata di Samudra Luas! Keselamatan Pelayaran di Ujung Tanduk

Salah satu poin krusial dari peringatan BMKG adalah ancaman gelombang tinggi. Buat kita yang hidup di daratan, mungkin cuma mikir “ah, paling ombaknya gede dikit.” Eits, jangan salah! Bagi para pelaut, nelayan, atau siapa pun yang bergantung pada transportasi laut, gelombang tinggi ini adalah mimpi buruk. BMKG bahkan mengeluarkan peringatan spesifik tentang potensi gelombang tinggi yang bisa mengganggu keselamatan pelayaran hingga tanggal 24 September (Sumber: RCTI+).

Bagaimana Gelombang Tinggi Mengancam?

Secara teknis, gelombang tinggi dapat menimbulkan serangkaian bahaya yang kompleks:

  1. Kestabilan Kapal: Gelombang tinggi dapat menyebabkan kapal kehilangan keseimbangan (oleng), terutama kapal-kapal kecil seperti perahu nelayan. Olengan yang ekstrem bisa menyebabkan kapal terbalik atau tenggelam. Kapal-kapal besar pun bisa mengalami kerusakan struktural jika terus-menerus dihantam gelombang kuat.
  2. Kerusakan Mesin dan Sistem: Air laut yang masuk bisa merusak mesin, sistem kelistrikan, dan navigasi kapal. Ini bisa membuat kapal terombang-ambing tanpa kendali di tengah laut.
  3. Cidera Kru dan Penumpang: Guncangan hebat akibat gelombang bisa menyebabkan kru atau penumpang terjatuh, terbentur, dan mengalami cidera serius.
  4. Keterlambatan dan Kerugian Ekonomi: Kapal terpaksa berlindung atau menunda keberangkatan, menyebabkan keterlambatan pengiriman barang atau penumpang. Ini berdampak langsung pada rantai pasok dan perekonomian. Bayangkan kapal kargo berisi logistik penting tertahan berhari-hari, bisa bikin harga kebutuhan pokok naik daun!
  5. Risiko Kehilangan Nyawa: Ini adalah dampak terburuk. Banyak kasus kecelakaan laut yang berujung pada hilangnya nyawa akibat gelombang tinggi.

BMKG biasanya akan merinci daerah-daerah mana saja yang berpotensi mengalami gelombang tinggi, lengkap dengan perkiraan ketinggian gelombangnya. Informasi ini sangat vital bagi nakhoda untuk mengambil keputusan, apakah akan melanjutkan perjalanan, mencari rute alternatif, atau menunda keberangkatan. Mengabaikan peringatan ini sama saja bunuh diri, Gaes! Ibaratnya, kamu disuruh pakai helm dan sabuk pengaman, tapi malah nantang maut tanpa pengaman sama sekali.

Hujan Lebat dan Angin Kencang: Drama “Horor” di Daratan!

Jika gelombang tinggi adalah momok di laut, maka hujan lebat disertai petir dan angin kencang adalah horornya di daratan. BMKG sudah jauh-jauh hari mengingatkan tentang potensi ini, bahkan menyebutkan wilayah-wilayah spesifik dan tanggalnya. Misalnya, BMKG memperingatkan hujan lebat dan angin kencang berpotensi terjadi pada tanggal 22 September di beberapa wilayah (Sumber: Kompas.com). Tak hanya itu, daerah seperti Kabupaten Serang pada siang hari mulai pukul 13.25 WIB (Sumber: Databoks Katadata) dan Kepulauan Riau mulai pukul 12.38 WIB pada tanggal 21 September 2026 juga telah menerima peringatan dini serupa (Sumber: Databoks Katadata; WartaKepri.co.id). Ini menunjukkan betapa detail dan terlokalisasinya peringatan yang dikeluarkan BMKG.

Dampak Nyata di Daratan:

  1. Banjir dan Banjir Bandang: Ini sudah jadi langganan. Curah hujan yang tinggi dalam waktu singkat melebihi kapasitas drainase dan penyerapan tanah, menyebabkan genangan di mana-mana, bahkan banjir bandang di daerah aliran sungai. Infrastruktur perkotaan seringkali tidak siap menghadapi debit air sebesar ini.
  2. Tanah Longsor: Daerah perbukitan dan pegunungan, terutama yang gersang atau sudah tererosi, sangat rentan. Air hujan menyusup ke dalam tanah, mengurangi daya rekat partikel tanah, dan memicu longsoran. Ini bisa menimbun rumah, jalan, bahkan menelan korban jiwa.
  3. Pohon Tumbang dan Kerusakan Bangunan: Angin kencang bisa merobohkan pohon, tiang listrik, baliho, bahkan merusak atap rumah. Ini tidak hanya membahayakan keselamatan, tapi juga bisa menyebabkan pemadaman listrik massal dan gangguan komunikasi.
  4. Gangguan Transportasi Darat: Jalanan licin, jarak pandang berkurang, genangan air, dan pohon tumbang membuat transportasi darat jadi horor. Kemacetan parah, kecelakaan, bahkan terputusnya akses jalan bisa terjadi.
  5. Bahaya Sambaran Petir: Petir bukan cuma bikin kaget, tapi juga mematikan. Infrastruktur seperti menara telekomunikasi, fasilitas listrik, bahkan rumah dan orang-orang di area terbuka rentan tersambar.

Peringatan dini seperti ini sangat penting. Dengan informasi dari BMKG, pemerintah daerah bisa menyiapkan tim penanggulangan bencana, masyarakat bisa mengambil langkah pencegahan seperti memangkas dahan pohon yang lapuk, membersihkan selokan, atau menghindari perjalanan saat cuaca buruk. Ini bukan cuma “info cuaca”, tapi “info keselamatan jiwa”!

Ketika Cuaca Galau, Pangan Ikut Gundah Gulana! Ancaman Terhadap Ketahanan Pangan

Nah, ini nih yang paling bikin hati gelisah, apalagi buat kita yang hobi makan. Cuaca ekstrem tidak hanya mengancam jiwa dan harta, tapi juga langsung “nendang” sektor pertanian dan distribusi pangan. Akibatnya? Pasokan komoditas pangan terganggu, harga naik, dan ketahanan pangan nasional bisa terancam.

Contoh nyatanya? Di Kabupaten Fakfak, cuaca ekstrem sudah mulai memengaruhi pasokan komoditas pangan (Sumber: RRI.co.id). Ini bukan kasus satu-dua daerah saja, melainkan potensi masalah berskala nasional yang perlu diwaspadai.

Mekanisme Dampak Cuaca Ekstrem pada Pangan:

  1. Gagal Panen (Pertanian):
    • Banjir: Sawah dan ladang terendam air dalam waktu lama akan merusak tanaman padi, jagung, sayuran, dan komoditas lainnya. Tanaman bisa busuk atau mati.
    • Kekeringan Ekstrem: Di sisi lain, cuaca ekstrem juga bisa memicu kekeringan panjang di musim kemarau, yang sama-sama merusak tanaman karena kekurangan air.
    • Hama dan Penyakit: Perubahan pola cuaca bisa memicu ledakan populasi hama atau penyebaran penyakit tanaman yang lebih cepat.
    • Angin Kencang: Angin kencang bisa merusak kebun, merontokkan buah-buahan, bahkan menumbangkan pohon-pohon perkebunan.
  2. Produksi Perikanan Menurun:
    • Gelombang Tinggi: Nelayan tidak bisa melaut, sehingga tangkapan ikan berkurang drastis. Ini memengaruhi pasokan ikan di pasar dan pendapatan nelayan.
    • Perubahan Suhu Air: Cuaca ekstrem bisa mengubah suhu dan salinitas air laut/tawar, memengaruhi migrasi ikan dan kesehatan budidaya perairan.
  3. Gangguan Distribusi dan Logistik:
    • Kerusakan Infrastruktur: Jalan rusak akibat banjir atau longsor, jembatan putus, atau akses terisolasi. Ini menghambat distribusi hasil panen dari petani ke pasar.
    • Transportasi Terganggu: Pelabuhan tutup karena gelombang tinggi, penerbangan kargo tertunda karena cuaca buruk. Semua ini menyebabkan barang-barang pangan tidak bisa sampai tepat waktu ke konsumen.
    • Biaya Logistik Meningkat: Rute yang memutar atau waktu tempuh yang lebih lama akan meningkatkan biaya operasional, yang pada akhirnya dibebankan ke harga produk pangan.
  4. Kenaikan Harga dan Inflasi:

    Ketika pasokan berkurang dan biaya distribusi meningkat, hukum ekonomi berlaku: harga akan naik. Ini bisa menyebabkan inflasi pada komoditas pangan, yang paling dirasakan oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Bayangkan kalau harga cabai, bawang, beras, atau daging ayam tiba-tiba melambung tinggi gara-gara gagal panen atau distribusi terhambat. Bisa-bisa menu makanmu jadi telur ceplok pakai kerupuk terus!

Kondisi ini bukan cuma soal perut kenyang atau enggak. Ini adalah isu krusial yang menyangkut ketahanan pangan nasional. Pemerintah perlu bekerja sama dengan BMKG untuk memitigasi risiko ini, misalnya dengan menyiapkan lumbung pangan cadangan, diversifikasi sumber pangan, atau memperbaiki infrastruktur logistik yang lebih tahan bencana. Ini adalah masalah serius yang butuh solusi teknis dan strategis.

Teknologi BMKG: Mata dan Telinga Kita di Langit dan Bumi!

Oke, sampai sini mungkin kamu mikir, “Terus, gimana BMKG bisa tahu semua itu, Kang Wong Edan?” Nah, ini bagian teknis yang menarik! BMKG itu bukan dukun yang pakai kembang-kembang dan menyan, tapi mereka adalah lembaga dengan segudang teknologi canggih.

Beberapa teknologi kunci yang digunakan BMKG:

  1. Satelit Meteorologi: Satelit seperti Himawari-8 (Jepang) atau NOAA (Amerika) terus-menerus memotret Bumi dari angkasa. Data yang diambil mencakup citra awan, suhu permukaan laut, kelembaban, dan pergerakan badai. BMKG punya stasiun penerima data satelit sendiri untuk menganalisis ini secara real-time.
  2. Radar Cuaca: Dipasang di berbagai lokasi strategis, radar cuaca memancarkan gelombang elektromagnetik dan menerima pantulannya dari partikel air di atmosfer. Dari pantulan ini, BMKG bisa mengetahui intensitas curah hujan, arah dan kecepatan awan, serta potensi badai petir.
  3. Stasiun Pengamatan Otomatis (AWS dan ARG): Ini adalah stasiun-stasiun yang tersebar di seluruh Indonesia, secara otomatis mengukur parameter cuaca seperti suhu, kelembaban, tekanan udara, kecepatan dan arah angin, serta curah hujan. Data ini dikirim secara real-time ke pusat data BMKG.
  4. Sistem Penentuan Posisi Global (GPS): Digunakan untuk memantau pergerakan tektonik bumi, yang relevan untuk geofisika (gempa bumi).
  5. Model Prediksi Numerik (NWP): Ini adalah ‘otak’ di balik semua ramalan. BMKG menggunakan superkomputer untuk menjalankan model matematika kompleks yang mensimulasikan dinamika atmosfer dan lautan. Dengan memasukkan data observasi dari satelit, radar, dan stasiun, model ini bisa memprediksi cuaca beberapa jam hingga beberapa hari ke depan dengan tingkat akurasi yang tinggi. Mereka terus mengembangkan model regional yang lebih presisi untuk wilayah Indonesia.
  6. Sistem Diseminasi Informasi: Peringatan yang sudah jadi tidak hanya disimpan. BMKG memiliki sistem untuk menyebarluaskan informasi dengan cepat melalui website (bmkg.go.id), aplikasi mobile (Info BMKG), media sosial, siaran pers, dan bekerja sama dengan media massa. Ini memastikan masyarakat dan pemangku kepentingan mendapatkan informasi secara cepat dan akurat.

Intinya, BMKG itu kayak tim data scientist kelas dunia yang spesialis di bidang alam. Mereka mengumpulkan big data dari berbagai sensor, memprosesnya dengan algoritma kompleks di superkomputer, lalu menyajikannya dalam bentuk informasi yang mudah dipahami agar kita semua bisa selamat dan waspada. Ini bukan sulap, ini sains!

Apa yang Bisa Kita Lakukan? Jurus Pamungkas Wong Edan untuk Survival Cuaca Ekstrem!

Oke, setelah kita tahu betapa seriusnya ancaman cuaca ekstrem dan betapa canggihnya BMKG dalam mendeteksinya, sekarang pertanyaannya adalah: Apa yang bisa kita lakukan sebagai rakyat jelata? Jangan cuma panik dan update status “cuaca galau”, Gaes! Ada jurus-jurus pamungkas ala ‘Wong Edan’ yang bisa kamu praktikkan:

  1. Jangan Anti Sosial, Rajinlah Baca Peringatan BMKG!

    BMKG bukan spam! Unduh aplikasi Info BMKG, ikuti akun media sosial mereka, atau sering-sering cek website mereka. Informasi adalah kekuatan! Dengan tahu potensi bahaya, kamu bisa mempersiapkan diri. Ini ibarat kamu tahu ada patch update untuk game favoritmu, pasti langsung di-download kan? Ini lebih penting!

  2. Siapkan “Survival Kit” Versi Cuaca Ekstrem!

    Bukan cuma buat gamer, tapi buat semua! Siapkan tas siaga bencana kecil berisi:

    • Senter dan baterai cadangan (kalau listrik mati).
    • Obat-obatan pribadi dan P3K.
    • Makanan instan dan air minum (minimal 3 hari).
    • Pakaian ganti dan selimut darurat.
    • Dokumen penting dalam kantong plastik kedap air.
    • Power bank (untuk HP, biar tetap bisa update BMKG!).

    Anggap aja ini persiapan untuk event survival dadakan. Siapa tahu jadi bahan konten TikTok!

  3. Jaga Lingkungan, Bukan Cuma Jaga Perasaan Mantan!

    Cuaca ekstrem makin parah salah satunya karena ulah kita juga. Mulai dari buang sampah sembarangan yang bikin selokan mampet dan banjir, sampai penebangan hutan ilegal yang bikin tanah longsor. Jaga lingkunganmu! Bersihkan selokan, tanam pohon, dan jangan buang sampah sembarangan. Ini investasi jangka panjang buat masa depan dan biar cuaca enggak makin galau.

  4. Kalau BMKG Bilang “Jangan Berlayar!”, Ya Jangan Ngeyel!

    Terutama untuk para nelayan dan pelaut. Kalau sudah ada peringatan gelombang tinggi, jangan nekad! Risiko nyawa lebih besar dari keuntungan sesaat. Tunda perjalanan, cari tempat berlindung. Ingat, keluarga menunggu di rumah!

  5. Kenali Lingkungan Sekitar dan Rute Evakuasi!

    Apakah rumahmu di daerah rawan banjir? Dekat tebing yang bisa longsor? Cari tahu! Diskusikan dengan keluarga atau tetangga mengenai rute evakuasi teraman. Ini penting kalau harus mengungsi mendadak.

  6. Gotong Royong Itu Penting, Bukan Cuma di Film Kolosal!

    Jika terjadi bencana, bantu sesama. Jangan cuma sibuk foto-foto untuk di-upload di sosmed. Kekuatan komunitas itu luar biasa dalam menghadapi musibah. Saling bantu, saling jaga.

Kesimpulan: Waspada, Siaga, dan Jangan Panik!

Cuaca ekstrem adalah realitas yang harus kita hadapi. Peringatan dini dari BMKG, yang didukung oleh teknologi canggih dan analisis data mendalam, adalah ‘alarm’ yang sangat berharga bagi kita semua. Dari ancaman gelombang tinggi yang bisa menenggelamkan kapal, hujan lebat dan angin kencang yang menyebabkan banjir serta tanah longsor di daratan, hingga dampak domino pada pasokan dan harga pangan, semuanya adalah potensi bahaya yang nyata.

Sebagai masyarakat yang cerdas dan ‘edan’ dalam artian positif, kita tidak boleh mengabaikan informasi ini. Mari kita jadikan peringatan BMKG sebagai panduan untuk bertindak, bukan untuk ketakutan. Dengan pemahaman yang baik tentang fenomena cuaca, kesiapan diri, serta kerja sama antar individu dan pemerintah, kita bisa meminimalkan risiko dan dampak yang ditimbulkan oleh alam yang sedang “bad mood” ini.

Jadi, tetap waspada, tetap siaga, dan jangan panik. Karena ‘Wong Edan’ sejati adalah dia yang cerdas dalam menghadapi tantangan, bukan cuma galau di pojokan. Ingat, bumi ini rumah kita, mari kita jaga dan pahami “mood”-nya agar kita bisa hidup berdampingan dengan damai, tanpa perlu drama horor setiap kali hujan lebat dan angin kencang menyapa!

[ END_OF_ENTRY ]
[ SUCCESS: COPIED_TO_CLIPBOARD ]
[ ARCHIVAL_COMMAND_INDEX ]
SHOW_COMMANDS?
SEARCH_ARCHIVECTRL+K / /
GOTO_INDEXSHIFT+H
NEXT_ENTRY_PAGE]
PREV_ENTRY_PAGE[
COPY_LINKSHIFT+S
CITE_SPECIMENC
MOVE_FOCUSW / S
ACTION_KEYENTER
PRINT_SPECIMENCTRL+P
PRECISION_DOWNJ
PRECISION_UPK
CLOSE_ALLESC
[ ARCHIVAL_CITATION_SPECIMEN ]
APA_FORMAT
azzar. (2026). BMKG: Siaga Cuaca Ekstrem! Bahaya Mengancam Pelayaran hingga Pangan, Siap-siap Gundah Gulana!. Glass Gallery. Retrieved from https://wp.glassgallery.my.id/bmkg-siaga-cuaca-ekstrem-bahaya-mengancam-pelayaran-hingga-pangan-siap-siap-gundah-gulana/
[ CLICK_TO_COPY ]
MLA_FORMAT
azzar. "BMKG: Siaga Cuaca Ekstrem! Bahaya Mengancam Pelayaran hingga Pangan, Siap-siap Gundah Gulana!." Glass Gallery, 2026, September 21, https://wp.glassgallery.my.id/bmkg-siaga-cuaca-ekstrem-bahaya-mengancam-pelayaran-hingga-pangan-siap-siap-gundah-gulana/.
[ CLICK_TO_COPY ]
CHICAGO_STYLE
azzar. "BMKG: Siaga Cuaca Ekstrem! Bahaya Mengancam Pelayaran hingga Pangan, Siap-siap Gundah Gulana!." Glass Gallery. Last modified 2026, September 21. https://wp.glassgallery.my.id/bmkg-siaga-cuaca-ekstrem-bahaya-mengancam-pelayaran-hingga-pangan-siap-siap-gundah-gulana/.
[ CLICK_TO_COPY ]
BIBTEX_ENTRY
@misc{glassgallery_630,
  author = "azzar",
  title = "BMKG: Siaga Cuaca Ekstrem! Bahaya Mengancam Pelayaran hingga Pangan, Siap-siap Gundah Gulana!",
  howpublished = "\url{https://wp.glassgallery.my.id/bmkg-siaga-cuaca-ekstrem-bahaya-mengancam-pelayaran-hingga-pangan-siap-siap-gundah-gulana/}",
  year = "2026",
  note = "Retrieved from Glass Gallery"
}
[ CLICK_TO_COPY ]
TECHNICAL_REF
[ REF: BMKG: SIAGA CUACA EKSTREM! BAHAYA MENGANCAM PELAYARAN HINGGA PANGAN, SIAP-SIAP GUNDAH GULANA! | SRC: GLASS GALLERY | INDEX: 630 ]
[ CLICK_TO_COPY ]