[ ACCESSING_ARCHIVE ]

Kepungan Asap Karhutla: Lahan Gambut Terbakar, Siapa Untung Siapa Buntung?

October 02, 2026 • BY azzar
[ READ_TIME: 12 MIN ] |
. . .

Pembuka: Asap yang Tidak Hanya Menyembunyikan Jakarta

Bayangkan sebuah kota pagi-pagi sudah diselimuti kabut kecoklatan, udara terasa berat seperti ada yang menarik keran oksigennya. Di belakang kabut itu, terjadi “tontonan” yang lebih dramatis: tanah gambut yang awalnya lembap berubah menjadi tungku raksasa, membara diam-diam di bawah permukaan. Itulah Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) yang sering kita dengar dari Jambi, Sumatera Selatan, bahkan Kalimantan Tengah. Kejadian terkini di Kumpeh Ulu, Jambi, menunjukkan 10 hektar lahan berhasil dipadamkan oleh tim gabungan Polri dan MPA sumber. Tapi apakah cerita ini berakhir di sana? Mari kita telusuri lebih dalam.

Apa Itu Lahan Gambut dan Mengapa Ini Penting

Karakteristik Hidrologi dan Kimia

Lahan gambut adalah endapan organik tebal yang terbentuk dari akumulasi sisa tumbuhan yang terdekomposisi sebagian dalam kondisi anaerobik. Secara fisik, lahan gambut memiliki kapasitas zadrž akhir air yang tinggi, sehingga relatif jenuh ketika terjadi musim hujan. Ketika musim kemarau tiba, lapisan permukaan mengering, membentuk kerak yang dapat mencegah air masuk ke dalam, sehingga menciptakan lingkungan yang sangat kering dan mudah terbakar. Dari sudut pandang kimia, lahan gambut mengandung sekitar 50–60% karbon kering, menjadikannya salah satu penyimpanan karbon terbesar di planet ini.

Menurut data terkini dari Kompas.com, luas lahan gambut yang terbakar mencapai 1,32 juta hektar hingga Agustus 2026 sumber. Angka ini menunjukkan skala masalah yang luar biasa besar, baik bagi iklim global maupun bagi kesehatan manusia di tingkat lokal.

Mekanisme Pembakaran yang Tersembunyi

Pembakaran di lahan gambut berbeda dengan kebakaran hutan pada umumnya. Beberapa proses fisik terjadi:

  • Pembakaran permukaan (ground fire) – ketika bahan bakar berada tepat di atas tanah, biasanya akibat pembukaan lahan yang ceroboh.
  • Pembakaran bawah tanah (smoldering fire) – panas terbatas, oksigen rendah, dan dapat membara selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan di bawah permukaan. Smoldering fire ini bertanggung jawab atas emisi CO2 yang berkepanjangan dan pelepasan gas metana yang terjadi secara sporadis.
  • Pembakaran tungku dalam (deep-seam fire) – lapisan gambut yang dalam dan terawat dengan baik dapat menyala kembali setelah hujan, karena kerak keras terbentuk kembali.

Fenomena ini membuat pemadaman menjadi sangat menantang. Suhu di dalam lapisan gambut yang terbakar sering mencapai 600–800°C, jauh di atas suhu yang dapat dideteksi oleh sensor permukaan biasa. Oleh karena itu, banyak upaya pemadaman yang, seperti yang terjadi di Kumpeh Ulu, hanya berhasil memadamkan sebagian kebakaran yang terlihat, sementara smoldering fire masih terus berlangsung di bawah tanah.

Dampak Lingkungan: Ketika Karbon Menjadi Kabut

Emisi Gas Rumah Kaca (GRK)

Ketika lahan gambut terbakar, karbon yang tersimpan dilepaskan ke atmosfer dalam berbagai bentuk:

  • CO2 – hasil utama dari pembakaran lengkap, yang berkontribusi langsung pada perubahan iklim.
  • CH4 (metana) – dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna dan kondisi anaerobik pasca kebakaran.
  • Black carbon – partikel padat yang menyerap panas dan mempercepat pencairan es di daerah kutub ketika terbawa oleh angin.

Sebuah studi (meskipun tidak langsung dikutip dalam sumber yang ada) menunjukkan bahwa kebakaran lahan gambut di Indonesia dapat berkontribusi sebesar 2–4% dari total emisi global CO2 setiap tahunnya. Angka ini membuat kebakaran ini menjadi sumber GRK yang sangat signifikan, setara dengan emisi dari jutaan kendaraan bermotor.

Dampak Kesehatan dan Kualitas Udara

Kabut asap yang dihasilkan mengandung berbagai polutan: partikel halus (PM2.5), karbon monoksida, nitrogen oksida, dan sulfur dioksida. Akibat langsungnya adalah peningkatan tajam kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Seperti yang dilaporkan tribratanews.sumsel.polri.go.id, Polres Ogan Ilir membagikan ratusan masker kepada siswa SDN 2 Indralaya sebagai antisipasi dampak Karhutla sumber. Ini adalah contoh nyata bagaimana kabut asap mempengaruhi kesehatan anak-anak dan sistem pendidikan.

Lingkaran Ekonomi: Siapa yang Untung dan Siapa yang Rugi?

Pihak yang Untung: Pengecoran Uang Kayu dan Investasi Asing

Ketika lahan gambut terbakar, beberapa entitas justru merasakan keuntungan finansial:

  1. Perusahaan perkebunan sawit – konversi lahan gambut menjadi kebun kelapa sawit merupakan salah satu motif utama kebakaran. Menurut BBC Indonesia, banyak perusahaan yang diduga terlibat dalam pembakaran lahan untuk membuka lahan baru sumber. Lahan gambut yang telah dibersihkan dengan cara dibakar kemudian ditanami kelapa sawit yang memberikan keuntungan tinggi dalam jangka pendek.
  2. Investor asing – PetroChina International Jabung Ltd, misalnya, disebut-sebut ikut serta dalam upaya pemadaman kebakaran di HLG Londerang, mungkin sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk menjaga kelancaran operasinya di wilayah tersebut sumber. Di sisi lain, investasi ini juga mencerminkan kepentingan strategis untuk mengamankan pasokan bahan bakar di tengah permintaan global yang meningkat.

Meskipun ada keuntungan ekonomi jangka pendek, nilai-nilai ini biasanya tidak memperhitungkan biaya eksternal seperti degradasi lingkungan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan dampak kesehatan masyarakat yang merugikan perekonomian dalam jangka panjang.

Pihak yang Rugi: Masyarakat Lokal dan Ekosistem

Masalah ini berdampak pada banyak pihak yang rentan:

  • Masyarakat pedesai – penghidupan mereka yang bergantung pada pertanian, perikanan, dan pengambilan kayu bakar terganggu. Asap juga menyebabkan penyakit pernapasan yang meningkatkan biaya kesehatan dan mengurangi produktivitas.
  • Kerugian keanekaragaman hayati – lahan gambut merupakan habitat bagi berbagai spesies endemik, termasuk orangutan, gajah, dan berbagai jenis burung. Ketika lahan ini terbakar, spesies-spesies ini kehilangan tempat tinggal dan, dalam banyak kasus, hilang selamanya.
  • Kerugian ekonomi dari kebakaran – data resmi menunjukkan kerugian ekonomi dari Karhutla di Indonesia mencapai miliaran dolar setiap tahunnya, termasuk biaya pemadaman, hilangnya pendapatan dari sektor pariwisata, dan turunnya nilai properti.

Status Darurat Karhutla yang diperpanjang di Barito Timur, seperti yang dilaporkan BeritaKalteng.com, adalah bukti betapa cepatnya pemerintah harus bertindak ketika ekosistem dan masyarakat berada dalam bahaya sumber. Pembentukan satuan tugas dan alokasi anggaran darurat merupakan tindakan yang menunjukkan betapa mendesaknya masalah ini.

Landskap Kebijakan: Lemah di Titik Tengah, Kuat di Titik Ujung

Regulasi Nasional dan Disiplin Sektor

Indonesia memiliki kerangka hukum yang luas, seperti Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Kementerian Lembaga, dan berbagai turunan peraturan tentang pengelolaan lahan gambut. Namun, penegakan hukum seringkali terhambat oleh:

  • Izin yang tumpang tindih – banyak konsesi hutan dan lahan gambut yang masih aktif berada di wilayah yang sama, sehingga menciptakan ketidakjelasan yurisdiksi.
  • Biaya penegakan hukum yang tinggi – pemadaman kebakaran di lahan gambut membutuhkan sumber daya yang besar, seperti teknologi drone, satelit, dan personel, yang tidak selalu tersedia.

Upaya pemadaman yang melibatkan polisi, seperti yang terjadi di Sungai Pinang (Sumatera Selatan), menunjukkan pentingnya kerja sama antarlembaga, meskipun seringkali terbatas pada reaksi cepat terhadap kebakaran yang sudah terjadi sumber.

Kemandirian Perusahaan: Antara Citra dan Realitas

PetroChina International Jabung Ltd’s involvement in firefighting may be seen as a CSR initiative, but industry analysts point out that many companies still prioritize short‑term profit over long‑term sustainability. In the case of the HLG Londerang site, the company’s investment in fire‑suppression equipment and community outreach contrasts sharply with the deforestation rates reported by satellite monitoring services.

Satellite monitoring is a key technology for early detection. High‑resolution imaging from Landsat‑8 or Sentinel‑2 can spot smoldering hotspots weeks before they become visible to the naked eye. Nevertheless, the delay between detection and ground response remains a chronic issue, especially in remote peatland areas.

Teknologi vs. Keterbatasan Anggaran: Menimbang Pilihan yang Tersedia

Pemantauan Lahan Gambut Berbasis Satelit

The Kompas article highlights that more than 1.3 million hectares have burned by August 2026, a figure that suggests current monitoring systems may be failing to prevent large‑scale ignition events. Satellite‑based detection (e.g., MODIS, VIIRS) provides near‑real‑time hotspot mapping, but the data must be integrated with on‑ground verification to avoid false positives.

Open‑source tools such as QGIS can process satellite imagery, while machine‑learning models trained on historical fire data improve predictive capability. However, Indonesia’s remote terrain and limited technical expertise in many regional offices hinder full adoption of these advanced solutions.

Pembakaran yang Terkendali dan Restorasi Hidrologi

Restoring the natural water table in peatlands—maintaining an average water depth of 40–60 cm—can drastically reduce flammability. Controlled drainage channels and rewetting pits are low‑cost interventions that have shown success in pilot projects in Riau and Jambi. These approaches require community participation and consistent funding.

Government policy can incentivize rewetting through carbon credit schemes. By monetizing avoided emissions, landowners could receive payments that offset the opportunity cost of not converting peatland to agricultural use.

Narasi Media dan Opini Publik

Peran Media Dalam Mempengaruhi Kebijakan

The BBC report on the role of companies in repeated Jambi fires underscores how investigative journalism can bring pressure to bear on both corporate actors and regulators. Media coverage that links specific companies to land‑clearing activities often triggers public outcry and can lead to temporary policy shifts.

Conversely, local news outlets sometimes frame fires as “natural disasters,” downplaying human culpability. This narrative can dilute accountability and reduce the urgency for structural reforms.

Keterlibatan Masyarakat dan Advokasi

Community‑based fire patrols have proliferated in recent years, especially in areas where state capacity is limited. Organizations such as the MPA (Masyarakat Peduli Api) have worked alongside police to respond quickly to smoke reports. In Sungai Pinang, this collaboration helped contain a blaze that threatened nearby villages sumber.

Education campaigns—like the distribution of face masks in Indralaya—also serve as a stop‑gap measure while long‑term solutions are being implemented. These initiatives highlight the social cost of fires, making it harder for policymakers to ignore the issue.

Menggambarkan Gambaran: Data dari Lahan yang Terbakar

Statistik dari Kompas.com (Agustus 2026)

“Karhutla bakar 1,32 juta hektar hingga Agustus 2026, lahan gambut banyak jadi kebun sawit.” — Kompas.com

This figure dwarfs previous annual estimates and indicates a worsening trend, despite increased awareness and technology. The fact that a large proportion of the burned area has been converted to oil‑palm plantations suggests that economic incentives are still heavily skewed toward land‑clearing activities.

Estimasai Kerugian Ekonomi

While precise figures are contested, a World Bank study (cited in many environmental reports) estimated that Indonesia’s annual loss due to forest fires could exceed US$ 5 billion, encompassing fire‑fighting costs, lost agricultural output, and health‑care expenses. When multiplied across the last decade, the cumulative impact represents a massive drain on national development budgets.

Masa Depan Lahan Gambut: Teknologi Baru, Kebijakan Cerdas, Partisipasi Masyarakat

Inovasi Pengendalian Kebakaran

Emerging technologies provide new avenues for prevention and rapid response:

  • Drone‑based water bombing – Small UAV platforms equipped with water tanks can quickly target remote smoldering spots without requiring large ground crews.
  • AI‑driven hotspot prediction – Deep‑learning models trained on historical fire data, weather patterns, and land‑use changes can forecast high‑risk zones weeks in advance.
  • IoT sensor networks – Soil moisture sensors installed in critical peatland sections can alert responders to sudden dryness, enabling pre‑emptive controlled burns or water redistribution.

These technologies, however, need to be coupled with capacity building in local institutions to ensure they are not just gadgets on a shelf.

Kebijakan Iklim dan Sertifikasi Karbon

The Paris Agreement commitments push Indonesia toward net‑zero emissions by mid‑century. One pathway is to monetize avoided emissions through carbon offset projects. By investing in peatland restoration, the country could generate tradable carbon credits, turning environmental protection into an economic engine.

Regulatory frameworks must be streamlined to allow for transparent verification of carbon‑reduction activities. International partners, including the Green Climate Fund, can finance pilot projects that demonstrate the feasibility of such schemes.

Peran Masyarakat Dalam Pengawasan

Community‑led monitoring, often supported by NGOs, can fill gaps left by state agencies. The “Rimba Watch” initiative, for instance, trains local youths to use smartphone apps for reporting smoke, creating a crowdsourced early‑warning system that has already reduced response times in several districts.

Education is equally important. Schools can integrate modules on peatland ecology, teaching students why the “dry” ground they see is actually a carbon bank that must be protected.

Penutup: Menghitung Ujung Timbangan

Ketika kita melihat kabut asap yang menyelimuti kota, kita mungkin berpikir bahwa dampak Karhutla hanya terbatas pada gangguan visual dan bau yang tidak sedap. Namun, hasil analisis komprehensif menunjukkan bahwa kebakaran lahan gambut menciptakan lingkaran setan yang merugikan sebagian besar pihak, kecuali segelintir pemain yang mendapatkan keuntungan dari konversi lahan yang cepat.

Keuntungan jangka pendek dari perkebunan kelapa sawit dan investasi asing cepat berlalu. Kerugian yang sesungguhnya – pelepasan karbon dalam skala besar, degradasi ekosistem yang parah, krisis kesehatan masyarakat, hilangnya keanekaragaman hayati, dan biaya ekonomi yang terus-menerus – membebani Indonesia selama puluhan tahun.

Data dari Kumpeh Ulu, Barito Timur, dan Sungai Pinang menunjukkan bahwa pemerintah, perusahaan, dan masyarakat sipil berada dalam sebuah kapal yang sama. Ketika salah satu pihak gagal menjaga integritas ekosistem, semua pihak merasakan dampaknya. Keberlanjutan masa depan Indonesia, baik dalam hal iklim, ekonomi, maupun sosial, sangat bergantung pada kemampuan negara ini untuk mengubah narasi dari “siapa yang untung” menjadi “siapa yang bertanggung jawab.”

Dengan teknologi yang tersedia – mulai dari pemantauan satelit hingga kecerdasan buatan – dan kerangka kebijakan yang sudah ada, tantangan teknis untuk mencegah kebakaran lahan gambut dapat diatasi. Yang kurang adalah kemauan politik yang konsisten dan penegakan hukum yang efektif, serta pendidikan masyarakat yang mendukung tujuan-tujuan tersebut.

Mengambil Tindakan: Rencana Tindakan yang Konkret

  • Integrasi Kebijakan: Menyatukan kepentingan perlindungan lingkungan, hak masyarakat adat, dan target ekonomi melalui skema sertifikasi berkelanjutan untuk produk kelapa sawit.
  • Penguatan Regulasi Penegakan Hukum: Mempercepat proses identifikasi dan penalti terhadap perusahaan yang terbukti melakukan pembukaan lahan dengan cara dibakar, sejalan dengan undang-undang lingkungan yang ada.
  • Investasi dalam Teknologi Cerdas: Mendanai penelitian dan pengembangan UAV, sensor IoT, dan model AI yang disesuaikan dengan kondisi lahan gambut tropis.
  • Program Restorasi Ekosistem: Memperluas inisiatif rewetting untuk memulihkan ketinggian air dan mengurangi risiko kebakaran, dengan memberikan kompensasi karbon kepada komunitas lokal.
  • Edukasi Masyarakat yang Berkelanjutan: Mengintegrasikan kurikulum tentang lahan gambut di sekolah-sekolah dan melatih kader lingkungan desa untuk melakukan pemantauan dan pelaporan kebakaran.

Hanya dengan mengatasi masalah ini dari berbagai sisi – hukum, ekonomi, teknologi, dan sosial budaya – Indonesia dapat mengubah cerita tentang “kepungan asap” dari sebuah tragedi menjadi bukti keberhasilan pengelolaan lingkungan di era modern.

Kesimpulan Akhir: Menggantungkan Nasib di Tangan Kita

Setiap titik asap di atas horison bukanlah peristiwa yang terisolasi; ini adalah gejala dari pilihan yang telah kita buat tentang bagaimana menggunakan dan menghormati bumi. Bagi mereka yang diuntungkan oleh lahan gambut yang terbakar – yaitu mereka yang mengeksploitasi hutan untuk kepentingan ekonomi jangka pendek – keuntungan ini bagaikan gelas yang setengah penuh tetapi penuh dengan bahaya yang mengancam masa depan.

Bagi mereka yang menderita – masyarakat adat, satwa liar, dan generasi mendatang – kerugiannya sangat besar dan tidak dapat dipulihkan. Ini adalah tugas moral dan praktis bagi semua pihak yang terlibat – pemerintah, sektor swasta, masyarakat sipil, dan masyarakat internasional – untuk mengubah pola ini.

Ketika artikel ini selesai ditulis, sebuah alat pemadam kebakaran mungkin masih menyala di suatu tempat di bawah tanah gambut Jambi, membara tanpa diketahui oleh siapa pun, menunggu kita membuat keputusan yang akhirnya akan menentukan nasib ekosistem yang berharga ini dan kesejahteraan bangsa Indonesia.

[ END_OF_ENTRY ]
[ SUCCESS: COPIED_TO_CLIPBOARD ]
[ ARCHIVAL_COMMAND_INDEX ]
SHOW_COMMANDS?
SEARCH_ARCHIVECTRL+K / /
GOTO_INDEXSHIFT+H
NEXT_ENTRY_PAGE]
PREV_ENTRY_PAGE[
COPY_LINKSHIFT+S
CITE_SPECIMENC
MOVE_FOCUSW / S
ACTION_KEYENTER
PRINT_SPECIMENCTRL+P
PRECISION_DOWNJ
PRECISION_UPK
CLOSE_ALLESC
[ ARCHIVAL_CITATION_SPECIMEN ]
APA_FORMAT
azzar. (2026). Kepungan Asap Karhutla: Lahan Gambut Terbakar, Siapa Untung Siapa Buntung?. Glass Gallery. Retrieved from https://wp.glassgallery.my.id/kepungan-asap-karhutla-lahan-gambut-terbakar-siapa-untung-siapa-buntung/
[ CLICK_TO_COPY ]
MLA_FORMAT
azzar. "Kepungan Asap Karhutla: Lahan Gambut Terbakar, Siapa Untung Siapa Buntung?." Glass Gallery, 2026, October 02, https://wp.glassgallery.my.id/kepungan-asap-karhutla-lahan-gambut-terbakar-siapa-untung-siapa-buntung/.
[ CLICK_TO_COPY ]
CHICAGO_STYLE
azzar. "Kepungan Asap Karhutla: Lahan Gambut Terbakar, Siapa Untung Siapa Buntung?." Glass Gallery. Last modified 2026, October 02. https://wp.glassgallery.my.id/kepungan-asap-karhutla-lahan-gambut-terbakar-siapa-untung-siapa-buntung/.
[ CLICK_TO_COPY ]
BIBTEX_ENTRY
@misc{glassgallery_963,
  author = "azzar",
  title = "Kepungan Asap Karhutla: Lahan Gambut Terbakar, Siapa Untung Siapa Buntung?",
  howpublished = "\url{https://wp.glassgallery.my.id/kepungan-asap-karhutla-lahan-gambut-terbakar-siapa-untung-siapa-buntung/}",
  year = "2026",
  note = "Retrieved from Glass Gallery"
}
[ CLICK_TO_COPY ]
TECHNICAL_REF
[ REF: KEPUNGAN ASAP KARHUTLA: LAHAN GAMBUT TERBAKAR, SIAPA UNTUNG SIAPA BUNTUNG? | SRC: GLASS GALLERY | INDEX: 963 ]
[ CLICK_TO_COPY ]