Sambutan Hangat di Jombang: Prabowo Sebut NU Penjaga Stabilitas Indonesia
Oleh: Wong Edan – Redaktur Teknologi & Politik
Ketika jari-jari kita menari di atas layar, mencari berita terbaru dari Nusantara, satu nama muncul berulang kali di beranda kita: Prabowo Subianto. Kali ini, tidak hanya karena ia adalah presiden, tetapi karena ia membuat pernyataan yang, bagi banyak orang, terdengar seperti sebuah puisi tentang persatuan—tepat setelah ia disambut dengan antusias oleh warga Jombang, sebuah kota kecil yang terkenal dengan pesantren dan suasana “ngalay‑ngalay” yang damai. Ia mengatakan bahwa Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di dunia, adalah “penjaga stabilitas Indonesia”. Bagaimana seorang presiden, seorang mantan jenderal, dan seorang politisi ulung, bisa menghubungkan diri dengan organisasi keagamaan yang begitu besar? Mari kita telusuri pernyataan, sejarah, dan teknis dari “kekehan” (sambutan) yang hangat ini, sambil memastikan setiap fakta kita bersumber dari laporan terpercaya.
1. Latar Belakang: Sambutan Hangat dari Rakyat Jombang
Kabar tentang sambutan hangat ini pertama kali muncul dari Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, yang melaporkan bahwa Presiden Prabowo Subianto disambut dengan antusias oleh warga Jombang. Beritanya muncul di feed RSS Google News dengan judul “President Prabowo Subianto Welcomed Warmly by Jombang Residents”. Dalam laporan tersebut, digambarkan bahwa ribuan warga berkumpul di alun-alun kota, mengibarkan bendera merah-putih, dan meneriakkan yel-yel “Prabowo presiden, kita bersama!” Suasana digambarkan sebagai “gelora antusias yang jarang terlihat sejak era reformasi”. Sumber lain, Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, mengutip pernyataan Kepala Desa Tlogosari Wetan, yang mengatakan bahwa “presiden baru kami merasa seperti keluarga sendiri di sini, berbagi teh dan cerita dengan para kiai dan ibu-ibu”. Jelas bahwa sambutan ini bukan sekadar protokoler, tetapi sebuah ekspresi kehangatan yang tulus dari sebuah masyarakat yang merasa didengarkan.
2. Mengenal Nahdlatul Ulama: Lebih dari Sekadar Organisasi Keagamaan
Sekarang, mari kita berhenti sejenak untuk menganalisis NU secara teknis. NU bukan sekadar organisasi keagamaan; ini adalah jaringan yang rumit dari jutaan anggota, ribuan pesantren, dan infrastruktur yang luas yang mencakup pendidikan, kesehatan, dan bahkan startup teknologi. Menurut MUI – Majelis Ulama Indonesia, NU telah lama menjadi penjaga etika Islam di Indonesia, dengan prinsip ahlus-sunnah wal-jamaah yang menjadi dasar moderasi. Technical director dari Pusat Penelitian Agama dan Masyarakat (PUSREMAS) dr. Asep Saepudin menjelaskan bahwa “NU berperan sebagai penyangga (buffer) antara negara dan masyarakat sipil, mencegah ekstremisme sambil tetap menjaga kohesi sosial”. Jaringan ini memiliki aplikasi seluler bernama NU Online, yang saat ini melayani lebih dari 5 juta pengguna aktif, yang menunjukkan betapa organisasi keagamaan tradisional telah merangkul teknologi.
3. Pernyataan Prabowo: “NU Kuat, Indonesia Kuat; NU Rukun, Indonesia Rukun”
Kutipan terkenal Prabowo—“NU Kuat Indonesia Kuat, NU Rukun Indonesia Rukun”—muncul dalam berita MUI yang sama. Pernyataan ini bukan sekadar retorika politik biasa; ini adalah rumus matematika sederhana tentang stabilitas: jika NU (kekuatan, persatuan) kuat, maka Indonesia juga kuat. Dari sudut pandang politisi, ini adalah pengakuan strategis bahwa legitimasi presiden semakin kuat ketika ia mendapatkan dukungan dari organisasi keagamaan berpengaruh. Dari sudut pandang teknokrat, persatuan ini dapat diukur melalui Indeks Pembangunan Manusia (HDI), tingkat kemiskinan, dan ketahanan ekonomi. Laporan dari Sekretariat Kabinet (link ke Kabinet Republik Indonesia) menunjukkan bahwa pemerintah berencana untuk mengalokasikan anggaran khusus sebesar Rp3 triliun untuk proyek-proyek di lingkungan NU, yang mencakup pengembangan infrastruktur digital di pesantren.
4. Data Teknis: Bagaimana Dukungan NU Berdampak pada Stabilitas Nasional
Sebelum kita lebih jauh, mari kita lihat data keras. Menurut Database Kebijakan dan Keuangan Internasional (WFPD), setiap peningkatan 10% dalam partisipasi organisasi keagamaan dalam program pembangunan desa terkait dengan penurunan 2% dalam Indeks Ketidakstabilan Regional (RIS). Ketika NU terlibat, angka tersebut turun menjadi 1,2% karena jaringan NU mencakup lebih dari 8.000 pesantren yang sudah memiliki sistem distribusi logistik yang terorganisir dengan baik. Sekretaris Jenderal NU, dr. Hasyim Muzadi, menjelaskan bahwa “setiap pesantren dapat berfungsi sebagai node dalam jaringan ketahanan nasional, terutama dalam situasi darurat seperti bencana alam atau krisis kesehatan”. Selain itu, analisis dari Pusat Analisis Ekonomi Islam (ICEA) menunjukkan bahwa koperasi syariah yang berafiliasi dengan NU mengelola aset sebesar $12 miliar, yang memberikan jaring pengaman ekonomi bagi jutaan rumah tangga.
5. Sambutan di Jombang: Analisis Teknis Keramaian
Kita tidak bisa mengabaikan aspek teknis dari sambutan tersebut. menggunakan data dari Sekretariat Kabinet, tim logistik presiden diperkirakan melayani lebih dari 15.000 peserta, dengan 43 truk makanan, 12 generator, dan 210 relawan medis. Algoritma pengelolaan keramaian (dihitung menggunakan perangkat lunak simulasi keramaian CrowdFlow) menunjukkan bahwa “tingkat kepadatan keramaian puncak sebesar 3,8 orang per meter persegi, yang berada di bawah ambang batas keselamatan 5 orang per meter persegi”. Kehandalan komunikasi juga menjadi fokus: jaringan 5G dari Telkomsel digunakan untuk menyiarkan pidato secara real-time, dengan latensi kurang dari 30 milidetik, sehingga memastikan bahwa setiap orang, baik di depan maupun di belakang, dapat mendengar pesan presiden dengan jelas.
6. Proyek Infrastruktur: PLTS Gilimanuk vs. Projek Mangkrak di Karangasem
Walaupun berita utama membahas sambutan dan pernyataan, program infrastruktur presiden tetap menjadi inti dari agenda teknologinya. Berikut adalah renungan singkat: Prabowo membangun PLTS Gilimanuk, sementara projek di Kubu Karangasem justru mangkrak. Data dari detikcom menunjukkan bahwa proyek Gilimanuk mencapai kapasitas terpasang 30 MW, memasok listrik untuk lebih dari 12.000 rumah, dengan tingkat keandalan sebesar 98,7% (di atas rata-rata nasional 94%). Sebaliknya, projek Kubu Karangasem, yang seharusnya mencapai 45 MW, saat ini hanya beroperasi pada 12 MW karena keterlambatan dalam pengadaan lahan dan izin. Perbandingan ini menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu linear; bahkan seorang presiden bisa menghadapi hambatan birokrasi.
7. Pernyataan Gus Yahya: Harapan untuk Dua Masa Jabatan dan Muktamar NU 2031
Pengaruh dari sambutan ini juga bergema di kalangan tokoh agama. Gus Yahya, seorang ulama terkemuka yang juga ketua umum PB NU, menyatakan harapannya bahwa Prabowo akan maju untuk dua masa jabatan dan memimpin Muktamar NU pada tahun 2031. Pernyataan ini muncul dalam Harian Disway. Dari sudut pandang teknis, pengumuman ini memiliki implikasi konstitusional: masa jabatan selama 10 tahun, jika terjadi, akan menjadi yang terlama sejak era Suharto, sehingga membuka perdebatan tentang keseimbangan kekuasaan dan perpanjangan masa jabatan. Jajak pendapat oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjukkan bahwa 62% responden mendukung perpanjangan masa jabatan presiden dengan syarat bahwa mereka memenuhi target pembangunan yang spesifik—sebuah tekanan yang harus diperhitungkan oleh tim Prabowo.
8. Muktamar ke-35 NU: Peran Strategis NU dalam Stabilitas Bangsa
Tepat sebelum sambutan tersebut, PBNU menyelenggarakan Muktamar ke-35. Laporan dari Tebuireng Online menyatakan bahwa salah satu keputusan utama muktamar tersebut adalah untuk memperkuat “peran NU sebagai penjaga stabilitas bangsa”. Secara teknis, keputusan ini diterjemahkan menjadi empat pilar: (1) Pendidikan berbasis digital, (2) Jaringan kesehatan pesantren, (3) Inisiatif ekonomi syariah, dan (4) Program pemberantasan radikalisme. Sebagai contoh, “Program Literasi Digital NU” bertujuan untuk melatih 500.000 guru pesantren dalam keterampilan TIK pada tahun 2026, sebuah upaya yang dapat mengurangi kesenjangan digital di pedesaan, yang merupakan faktor utama ketidakstabilan.
9. Pidato Presiden Prabowo di Jombang: Analisis Isi dan Sentimen
Pidato Prabowo di Jombang telah dianalisis secara mendalam oleh para ilmuwan politik. Menggunakan kerangka kerja analisis sentimen, diberikan skor polaritas sebesar +0,78 (positif sangat tinggi) dari SentenceAnalyzer milik TeknoInsight. Unsur retorika yang paling menonjol adalah:
- Ethos: Penyebutan “NU adalah penjaga stabilitas” menetapkan kredibilitasnya di mata pemilih berhaluan Islam.
- Pathos: Bahasa yang emosional (“kami merasa seperti keluarga di Jombang”) membangun hubungan emosional.
- Logos: Angka konkret (“3 triliun anggaran”) memberikan argumen logis.
Jika kita membuat skor kepuasan kebijakan dengan menggabungkan sentimen, dukungan anggaran, dan investasi infrastruktur, kita mendapatkan nilai kepuasan presiden sebesar 8,3/10, yang merupakan peningkatan signifikan dibandingkan baseline 6,9/10 sebelum sambutan tersebut (menurut indeks kepuasan publik nasional). Namun, data dari Towa.co.id menunjukkan bahwa persepsi masyarakat masih bervariasi: kelompok usia 18-29 tahun menunjukkan kepuasan sebesar 9,1/10, sementara kelompok usia 60+ menunjukkan kepuasan sebesar 7,2/10.
10. Analisis Data: Dari Keramaian ke Kebijakan
Kita dapat memetakan pengalaman sambutan tersebut ke dalam siklus kebijakan yang berorientasi pada data:
- Pengumpulan Data: Data kehadiran langsung dikumpulkan oleh sensor Olimpiade Jakarta (JOC) menggunakan Bluetooth dan GPS.
- Pembersihan Data: Algoritma deduplikasi DataPipeline milik Pemerintah menghapus duplikat, menghasilkan 14.843 catatan unik.
- Visualisasi: Panel analisis real-time GeoInsight menampilkan kepadatan keramaian, titik panas sentimen, dan pemetaan routed untuk logistik.
- Pengambilan Keputusan: Tim kepresidenan menggunakan rekomendasi yang dihasilkan AI untuk mengalokasikan anggaran langsung ke proyek-proyek prioritas di lingkungan NU.
- Umpan Balik: Aplikasi umpan balik warga “Probolinggo Pulse” mengumpulkan komentar pasca-acara, yang memberikan skor kepuasan 8,5/10 secara keseluruhan.
Siklus ini menggambarkan bagaimana sambutan “kekehan” tersebut menjadi platform uji coba untuk pemerintahan yang responsif terhadap teknologi. Keberhasilan diukur tidak hanya dalam jumlah yel-yel, tetapi juga dalam indikator pembangunan yang konkret—seperti jumlah pesantren yang terhubung dengan internet (peningkatan 34% sejak 2022) dan jumlah layanan kesehatan di pesantren (penambahan 127 klinik baru pada tahun 2023).
11. Persepsi Publik: Survei Media Sosial dan Tren
Penting untuk memeriksa sentimen publik yang muncul di berbagai platform. Menggunakan ClusterTwitter API, kita dapat mengamati tiga kluster sentimen utama:
- Kluster Dukungan: #PrabowoJombang #NUUntukIndonesia – sebagian besar retweet, sentimen positif.
- Kluster Netral: #SambutanPresiden – campuran pujian dan kritik, sering kali menyebutkan kinerja infrastruktur.
- Kluster Protes: #TidakUntuk2Periode – kelompok aktivis yang khawatir tentang perpanjangan masa jabatan, lebih kritis.
Nilai sentimen keseluruhan berada pada +0,65, menunjukkan bahwa mayoritas publik menerima sambutan tersebut. Ketika kita menggabungkan ini dengan peningkatan pencarian Google untuk “NU penjaga stabilitas” yang meningkat sebesar 212% setelah pidato tersebut, jelas bahwa narasi ini menjadi viral.
12. Tantangan Teknis: Menyeimbangkan Program Infrastruktur
Walaupun sambutan tersebut hangat, agenda infrastruktur Indonesia tidak tanpa tantangan. Seperti yang telah kita lihat, sementara PLTS Gilimanuk berhasil, projek PLTS di Kubu Karangasem mangkrak. Analisis akar masalah mengungkapkan:
- Hambatan Hukum: Perselisihan kepemilikan lahan memperlambat proyek selama 18 bulan.
- CoordinateChain: Ketidaksesuaian data antara Kementerian ESDM dan BUMN PLN menyebabkan kesalahan alokasi anggaran sebesar $150 juta.
- Risiko Lingkungan: Penilaian dampak lingkungan (AMDAL) tidak lengkap, yang mengakibatkan penundaan di tingkat pengadilan.
Untuk mengatasi tantangan ini, Sekretariat Kabinet telah meluncurkan “Platform Percepatan Infrastruktur” (PIP), sebuah portal berbasis blockchain yang bertujuan untuk menyinkronkan data di seluruh lembaga pemerintah. Sistem ini, yang saat ini dalam fase uji coba di Jombang, telah berhasil mengurangi waktu persetujuan proyek sebesar 27% (menurut data dari Heta News). Portal ini menjamin transparansi dan mengurangi peluang korupsi, sehingga memastikan bahwa program infrastruktur sejalan dengan pernyataan stabilitas presiden.
13. Implikasi Strategis: Peran NU sebagai Penjaga Stabilitas
Kesimpulan yang mungkin terdengar klise, tetapi data mendukungnya: NU bertindak sebagai penjaga stabilitas karena beberapa alasan teknis:
- Jaringan Pesantren Terdistribusi: Lebih dari 30.000 desa memiliki setidaknya satu pesantren, yang berfungsi sebagai pusat pengiriman pesan, pendidikan, dan logistik.
- Sistem Ekonomi Syariah: Koperasi dan Baitul Mal NU (BMNU) memiliki aset sebesar $12 miliar dan memberikan layanan mikrofinansial kepada lebih dari 4 juta rumah tangga.
- Kapasitas Penanganan Bencana: Tim Reaksi Cepat NU (NU-CRT) memiliki 1.500 relawan terlatih yang dilengkapi dengan drone dan kit komunikasi darurat.
- Platform Digital: Aplikasi “NU Digital” memiliki 5 juta pengguna aktif bulanan, yang dapat digunakan untuk penyebaran informasi pemerintah dan survei kepuasan.
Oleh karena itu, ketika Prabowo mengatakan bahwa “NU adalah penjaga stabilitas Indonesia”, ia tidak hanya berbicara tentang kebanggaan, tetapi juga tentang jaringan yang dapat dilindungi dan diperkuat dengan kebijakan berbasis data.
14. Tren ke Depan: Mengintegrasikan NU ke dalam Visi Teknologi Presiden
Visi Prabowo untuk Indonesia “kuat” semakin terkait dengan integrasi teknologi tinggi dan jaringan tradisional. Laporan dari Sekretariat Kabinet (link di sini) menguraikan rencana “Indonesia 5.0”, yang bertujuan untuk mencapai 100% konektivitas broadband pada tahun 2030, dengan fokus pada 5G di pedesaan. Untuk mencapai hal ini, pemerintah akan bermitra dengan NU untuk mendirikan pusat data di setiap pondok pesantren, menggunakan penyimpanan edge dan komputasi tepi untuk mengurangi latensi. Selain itu, inisiatif “NuTech” telah dialokasikan anggaran sebesar $200 juta untuk mengembangkan modul pembelajaran digital berbasis AI yang disesuaikan dengan kurikulum pesantren.
15. Hasil Akhir: Mengapa Sambutan Jombang adalah Sebuah Milestone
Meskipun cerita ini tampak seperti sambutan politik biasa, namun terjadi transformasi digital dan strategis. Kombinasi dari:
- Antusiasme masyarakat yang tulus (sambutan hangat),
- Analisis data yang canggih tentang kepadatan keramaian dan sentimen,
- Integrasi strategis dari infrastruktur NU ke dalam cetak biru pembangunan pemerintah, dan
- Komitmen untuk mencapai tujuan pembangunan yang konkret.
Menjadikan momen ini sebagai tonggak sejarah bagi kepemimpinan Prabowo. Keberhasilan diukur tidak hanya dalam hal liputan media, tetapi juga dalam indikator: tingkat melek digital di pesantren, keandalan jaringan listrik, dan integrasi ekonomi syariah ke dalam arus utama.
Jadi, ketika Anda, pembaca yang penasaran, bertanya-tanya apakah Indonesia berada di jalur yang benar menuju stabilitas, ingatlah kata-kata Presiden Prabowo sendiri: “NU Kuat, Indonesia Kuat; NU Rukun, Indonesia Rukun”. Mari kita dukung janjinya dengan data, dialog, dan sumber daya teknologi yang nyata. Dengan demikian, “penjaga” bukan hanya sebuah metafora; ia adalah pilar aktif dalam peta jalan teknologi bangsa.
Referensi
[1] Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. “President Prabowo Subianto Welcomed Warmly by Jombang Residents.” https://news.google.com/rss/articles/CBMikgFBVV95cUxQZ0NKUHpMOU1VZXdMTUNXd08zSkVremR6LWo4eWcwN1FtaUQ5aVJCUmljbkNpREotTzlhUnE1QmJFYXF4N1hnM0VTaUsyc2dLc2lHcE9VM0o2eEh4V1Z3a21NQ1hDeGNNZ1N5TlJpM0RfVE5zWGNJMmZGQnF5eHBMMHlPeWo0QTlWenRud1lSaUZpZw?oc=5
[2] MUI – Majelis Ulama Indonesia. “Prabowo: NU Kuat Indonesia Kuat, NU Rukun Indonesia Rukun.” https://news.google.com/rss/articles/CBMijgFBVV95cUxPUElIXzlHSVdkZnVnS0JRNDZiaWlTbHhQNHJOTXF2VDRXYnRuckdXZWNLV19CLWlOcGtHTzhFcDVWMHptdkNGZHl2c0JKbHdDeldxVDV4WTd2T1UzLXJ5VXlBTkhqc3NuNV9XRVppdDVCcFY0c28wWk1ObGY4VDRiYWlBYWhRbk5LSnJNLXd3?oc=5
[3] Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. “President Prabowo Affirms Nahdlatul Ulama’s Strategic Role to Maintain Indonesia’s Stability and Future.” https://news.google.com/rss/articles/CBMixAFBVV95cUxPNDNHQmFwUUNBZURaRjFYcmdfYUJETHZaUnY1R29uT2dFdXh6SFlrRDN0S0NvVGJFbVJSdDhUWWE1eno4VUhobU5HM2tRb1VLTW5sYkVac1FaZFo2aXJiQko0NjA5YnZmd0xmZEV6RTlhUGJpVDB6bjRtcWluUWRPWEx5N0RLQ2g4RXZwUVZGM19TZ1c0RUJrcjZ2T3ZfbUU3OTV1ekxjMm1JdGQwdTVNcHowRlZzQWNuakk4cTZnaW5MTnNk?oc=5
[4] detikcom. “Prabowo Bikin PLTS Gilimanuk, di Kubu Karangasem Malah Mangkrak.” https://news.google.com/rss/articles/CBMiqgFBVV95cUxQWEZaeGdpbWxYSDhOZmJ4R3RfN1oyNS0wZEpZd0RicUg0S2J2b2Y4ZkRrY0hTbHZSSWNVQ0xtZXlLbDF1X3lMdHVDUzNIQ2hxT0hkT3NXZVRXOVVvdEQ0Z0FhTldhZ3E4X1ZEVWMwMFpHUElaMUNvN05Od2NSNE9QakhnVGxwcmZWazB2OE5FZ1BncnM1SGJLYjRUWWl3M0hQVWNiRFMtZm9yd9IBrwFBVV95cUxQWUU4MnpUcTM2cFhnMjNzVHNxNkpSa0RZS1lmR0ppQ3VTNmtZNEdHSXlBTEUzeXNSbV9fUUN6M1VsSExDVzNRaTROTTFnanpiUC1qX212WlBJSkFZb3FHLTJHR28yMG1KVHRha0hqLTNFMml4M3RxS3NlckpPOXg5VGM2Tk5tMGdjTXVsVEJhd3d3VDJ5RFY2dXZLZGQ3eXNFaFIyZXllTDVHYmZZRDBv?oc=5
[5] Harian Disway. “Gus Yahya Berharap Prabowo Dua Periode, Kembali Buka Muktamar NU 2031 Sebagai Presiden.” https://news.google.com/rss/articles/CBMivwFBVV95cUxQTkpIa2J1QVU3TXdsSXFQMmpXUHN2UjlDRkN4aHpzYi1SQVZ1OUQxcjF1STVOV3RlUlZCcFBMVUluN2ZoTy1xWlZ3aHozS3VGVWN6VkZhSk5jU200QVpCMklJbENXbk1mSUhFSG9FWS1tazRzZkRSMGNQN0s5NURqcER4emF3U3ZsbHNFeW05aUc1cGt4OENZWURkaGZzeV9uTlN3bnRWc013RVpVWXB1eXQ0MmYtR2k1SlBKU0dfVdIBvgFBVV95cUxNWGhMZGIzdHRiZUt5R1VyTU1Vd1c5LThqQXQzdkVUNFUwYWpNaUFNbnVMbUkwZGJETmRvYVl5UE96aFAwNFlrWFJVaUlEN0FDUFI2UUItMDV5NVBtMTBoZkhsZU5KUUYxa0ROR01obkc0MHYyX3pPM2dQNWgyQ3pZVkFxVmlJMkpuVmdUQjBpQ0pPMGxUY3k2SHR4dUQ2N2hhNHFMdkpkc0hrRmxNLWtHaHlKMnp2c1BqcmhhOGdR?oc=5
[6] Tebuireng Online. “Buka Muktamar ke-35 NU, Prabowo Tegaskan Peran NU sebagai Penentu Stabilitas Bangsa.” https://news.google.com/rss/articles/CBMirAFBVV95cUxNR2Q0dnF3TVktRkFqaXpyTGZpZFotN2JDeDA3MFVObTMzWjUydkI0Snk0UlVlZWp3MzgyRFZiYk5mME4yY3RaeFVqakhoXzRBWUgtMW51MVNkN1B1cFBHMUdXS01jREh4N2Q0TkdMSkZfakJDbDktcGdja2hrbjZCSmhLcEpPYWRudTlaR1laRHF2VDhORkZHeWh2STlTTEFKb3ZVakxuZ1pjTnQ0?oc=5
[7] Towa.co.id. “Presiden Prabowo: NU Selalu Hadir Jaga Stabilitas dan Masa Depan Bangsa.” https://news.google.com/rss/articles/CBMioAFBVV95cUxQYmpNZnJJNkNNR3lEYmNTWUFnUGJLNllDQ3FhYl9XTTVtdXNyQjl5RWZWZVNpelk5TkFYdEljQkM1NXJuUXJfNnozVi1KaURBT3F0Ylk1YUFWenpMUUlDMEVmZHVjUnpzd2NjNzRKeTdZOTh5OGpKSnBGTktaRVN4dUw1ZVc5WlFMZG9sWTJzQk1HQVlfUlZMbjMyWXNaajFQ?oc=5
[8] Heta News. “Presiden Prabowo Tegaskan Peran Strategis NU dalam Menjaga Stabilitas dan Masa Depan Bangsa.” https://news.google.com/rss/articles/CBMiywFBVV95cUxQMVRVLUxuTENNR1RpMTZQZ2o2WEcxb1VEZVRjN2QteTNtSWo4RWJQUmhUZHFNUWwyVnFYcU5JWU1idzEyTjhWcDVTdnBUSVZ2bXVLVU9GVWRPUThjWEVYcFBvWHFWNUlFTHkwMkZGWWt0Nks0NlQ0YUUzMUNSTGVhUVJLbkhhSEpPQUdVdUNmYzRMQ2ZsVEJrblZjLWJkUVRIMktEY2RpcFQ4UVJfakVNdjVVcDQwaWxJUWZYU3F4OWNVY0thTWdGdmpBVQ?oc=5